Harga Minyak Menguat Dipicu Keyakinan Pemulihan Ekonomi

Harga minyak menguat tipis ditopang optimisme pemulihan ekonomi dunia. Harga minyak Brent naik jadi US$63,16 dan WTI jadi US$59,77.Harga minyak menguat tipis ditopang optimisme pemulihan ekonomi dunia. Harga minyak Brent naik jadi US$63,16 dan WTI jadi US$59,77. Ilustrasi kilang minyak.

Jakarta, CNN Indonesia — Harga minyak dunia tumbuh tipis pada perdagangan Rabu (7/4), waktu setempat, dipicu oleh keyakinan investor terhadap prospek pemulihan ekonomi global. Faktor lainnya, data menunjukkan penurunan pasokan minyak mentah di Amerika Serikat.

Mengutip Antara, Kamis (8/4), harga minyak mentah berjangka Brent pengiriman Juni naik 42 sen menjadi US$63,16 per barel di London ICE Futures Exchange.

Sementara, harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate pengiriman Mei naik 44 sen menjadi US$59,77 per barel di New York Mercantile Exchange.

Lihat juga :Agar Lancar Berbenah Subsidi LPG 3 Kg

Badan Informasi Energi AS (EIA) mengungkap stok minyak mentah AS turun 3,5 juta barel pada pekan lalu. Namun, persediaan bensin melompat 4 juta barel dibanding ekspektasi jajak pendapat Reuters.

“Jika Anda tidak perlu membuat bensin, maka Anda tidak perlu menggunakan lebih banyak minyak mentah,” ungkap Direktur Energi Berjangka di Mizuho Securities Bob Yawger yang menganalogikan pasokan minyak mentah dan bensin.

Kenaikan harga minyak juga didukung dengan optimisme The Fed, bank sentral AS, yang percaya pemulihan ekonomi berjalan. Termasuk juga, keyakinan IMF mengenai pertumbuhan ekonomi dunia sebesar 6 persen pada tahun ini, tingkat yang belum pernah tercapai sejak 1970an.

Optimisme tersebut membuat prospek permintaan bahan bakar minyak (BBM) meningkat di tengah pandemi covid-19.

Lihat juga :Malu, Pimpinan Banggar DPR Dapat ‘Subsidi’ Listrik

Namun, peningkatan kasus covid-19 di AS, yang menyumbang lebih dari separuh kasus kematian pada pekan lalu, membuat kenaikan harga minyak terbatas.

Tidak cuma itu, pasar minyak mentah juga menghadapi risiko peningkatan pasokan dari Iran. “Iran adalah satu-satunya risiko pasokan naik untuk pasar minyak,” imbuh Pialang Minyak PVM Stephen Brennock.

Harga minyak turun awal pekan ini setelah negara-negara produsen minyak (OPEC) dan sekutunya, OPEC+, setuju untuk memangkas pengurangan pasokan mulai Mei secara bertahap.

Source : cnnindonesia.com