Harga Minyak Merangkak Usai Sentuh Level Terendah Dua Bulan

Harga minyak dunia merangkak naik pada penutupan perdagangan Selasa (20/7), setelah menyentuh level terendahnya dalam dua bulan pada sesi sebelumnya.Harga minyak dunia merangkak naik pada penutupan perdagangan Selasa (20/7), setelah menyentuh level terendahnya dalam dua bulan pada sesi sebelumnya.

Jakarta, CNN Indonesia — Harga minyak dunia mulai merangkak naik pada penutupan perdagangan Selasa (20/7) waktu AS, setelah menyentuh level terendahnya dalam dua bulan terakhir pada sesi sebelumnya.

Harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman September naik 1,1 persen menjadi US$69,35 per barel, usai anjlok 6,8 persen pada hari sebelumnya.

Harga acuan minyak global tersebut telah jatuh dari puncaknya sejak akhir 2018 di level US$77 per barel pada awal Juli 2021.

Sementara, harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Agustus meningkat 1,5 persen menjadi US$67,42 per barel. Harga minyak WTI tercatat rontok 7,5 persen dibandingkan hari sebelumnya.

Pada Senin (19/7), investor banting harga melakukan aksi jual minyak mentah karena kekhawatiran merosotnya permintaan di tengah kenaikan kasus covid-19. Aksi ini membuat harga minyak jatuh 7 persen dan memukul harga aset-aset berisiko lainnya.

Pasar minyak juga meradang di tengah kabar organisasi negara-negara pengekspor minyak dan sekutunya alias OPEC+ telah mencapai kesepakatan untuk mengerek pasokan dalam beberapa bulan mendatang.

“Ada pemetik keuntungan yang memanfaatkan penurunan harga minyak,” terang Direktur Energi Berjangka Mizuho di New York Bob Yawger seperti dilansir Antara, Rabu (21/7).

Harga minyak terpangkas setelah data American Petroleum Institute (API), secara tak terduga, menunjukkan pasokan minyak mentah dan bensin AS masing-masing meningkat 806 ribu barel dan 3,3 juta barel pada pekan lalu.

Akibatnya, pasar skeptis kenaikan harga minyak akan berlangsung lama. “Pasar jelas gelisah terhadap prospek permintaan minyak. Sulit bila harga kembali pulih kecuali kegelisahan virus corona dikendalikan kembali,” imbuh Stephen Brennock, Pialang Minyak PVM.

Pejabat AS pada akhir pekan lalu menyebut varian delta covid-19 menjadi jenis virus yang dominan saat ini di seluruh dunia.

Carsten Menke, Analis dari Julius Baer, menuturkan varian delta covid-19 yang saat ini sedang menyebar luas akan mengakibatkan ‘cegukan’ pemulihan ekonomi global.

“Menambah beban di tengah kesepakatan OPEC+ untuk meningkatkan produksi mulai Agustus nanti,” tandasnya.