Usai Naik 2%, Harga Minyak Mentah Pagi Ini Terpeleset

Prediksi Harga Minyak WTI – Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Reli harga minyak mentah dunia berlanjut dengan kenaikan sekitar dua persen pada akhir perdagangan Senin (Selasa pagi WIB), menyusul data yang menunjukkan berkurangnya produksi minyak Amerika Serikat (AS). Meski demikian, penguatannya terancam oleh kenaikan produksi OPEC.

Pada perdagangan Senin, harga minyak WTI kontrak Agustus 2017 ditutup melesat 2,24% atau 1,03 poin ke US$47,07 per barel, level tertinggi dalam hampir sebulan.

Harga minyak WTI pagi ini terpantau turun 0,25% ke US$46,95 per barel pada pukul 07.12 WIB, sedangkan harga minyak Brent melemah 0,36%  atau 0,18 poin ke US$49,50 per barel.

Volume perdagangan bursa minyak mentah AS cenderung rendah sehari menjelang libur hari kemerdekaan AS.

Adapun patokan Eropa minyak Brent untuk kontrak September 2017 menguat 1,87% atau 0,91 poin ke US$49,68, setelah dibuka dengan kenaikan 0,37% atau 0,18 poin di posisi 48,95. Harga minyak Brent telah naik 5,2% pekan lalu, penguatan mingguan pertama dalam enam pekan.

Baik harga minyak WTI dan Brent kemarin mencatatkan kenaikan selama delapan sesi perdagangan berturut-turut.

“Ini semua tentang sentimen pasar,” kata analis minyak dari Commerzbank, Carsten Fritsch, seperti dikutip dari Reuters (Selasa, 4/7/2017), seraya mengacu pada penurunan produksi minyak AS sebesar 100.000 barel per hari (bph) akibat badai tropis dan proses pemeliharaan, serta penurunan jumlah rig AS.

“(Efek) faktor-faktor (sementara) ini lebih besar dari kenaikan tajam produksi minyak OPEC pada bulan Juni serta terus meningkatnya produksi Libya dan Nigeria, setidaknya untuk saat ini,” tambahnya.

Setelah naik selama 23 pekan berturut-turut, aktivitas pengeboran untuk produksi minyak yang baru di AS turun untuk pertama kalinya sejak Januari, sementara data pemerintah AS menunjukkan produksi minyak mentah turun pada April, pertama kalinya untuk tahun ini.

“Kami pikir jatuhnya harga telah menyebabkan pertumbuhan output AS melambat. Revisi untuk bulan Mei dan Juni akan mengkonfirmasi bahwa pasokan tumbuh pada tingkat yang jauh lebih rendah daripada yang diyakini pasar sampai saat ini,” papar Standard Chartered dalam risetnya.

Di sisi lain, menurut para analis, kenaikan tingkat produksi OPEC dapat menutup penguatan minyak. Produksi OPEC dilaporkan menyentuh level tertingginya sepanjang tahun ini. Survey Reuters menunjukkan, produksi OPEC naik 280.000 bph menjadi 32,72 juta bph, terlepas dari kesepakatan OPEC untuk membatasi produksi.

Source : bisnis.com