Trump Jadi Presiden AS, Ada Dampaknya ke Harga Minyak?

Senin 14 Nov 2016, 08:55 WIB – Michael Agustinus – detikFinance

66010279-2f12-483d-a54d-65c9894858dd_169

Jakarta – Donald Trump baru saja memenangi pemilihan presiden di Amerika Serikat pada 9 November 2016 lalu. Dalam kampanye-kampanyenya, Trump menunjukkan indikasi tidak begitu perhatian terhadap isu-isu perubahan iklim (climate change).

Ada perkiraan, Trump akan menggenjot produksi minyak dan gas serpih (oil and shale gas) tanpa mempertimbangkan stabilitas lingkungan, sehingga harga minyak dunia sulit naik.

Pada Jumat (11/11/2016) lalu, harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak Desember 2016, turun 0,49% menjadi US$ 44,44 per barel. Harga jenis Brent juga menurun 0,37% menjadi US$ 45,67 per barel.

Tetapi itu semua masih prediksi-prediksi dari retorika kampanye Trump saja. Orientasi kebijakan negara di bawah Trump masih disusun oleh tim transisi pemerintahannya.

“Kita belum bisa mengambil kesimpulan sekarang,” kata Gubernur OPEC, Widhyawan Prawiraatmadja, melalui pesan singkat kepada media, Senin (14/11/2016).

Widhyawan menambahkan, perubahan harga minyak pasca terpilihnya Trump hanya efek psikologis dalam jangka pendek saja. Secara fundamental, kondisi pasar belum berubah, masih terjadi kelebihan pasokan sehingga harga cenderung lemah.

“Dampak saat ini hanya dari sisi psikologis yang masih berubah-ubah. Kondisi pasar masih over supply,” ucapnya.

Harga minyak, sambungnya, akan menguat jika permintaan meningkat atau pasokannya yang turun. Kenaikan permintaan sangat bergantung pada pertumbuhan ekonomi global.

Sedangkan turunnya pasokan bisa terjadi jika negara-negara anggota OPEC dan produsen-produsen minyak non-OPEC seperti Rusia setuju mengurangi produksi.

Pertanyaannya, apakah OPEC dan negara-negara eksportir minyak yang bukan anggota OPEC akan memangkas produksi?

“Jawabannya, kita lihat sama-sama nanti hasil sidang OPEC tanggal 30 November 2016 yang akan datang,” tutupnya. (wdl/wdl)

Source : detik.com