Transportasi dan Logistik — ALFI Ingin Kerjasama dengan KA

Januari 16 / 2017 — 16:42 WIB
Oleh : Gloria Fransisca Katharina Lawi

Bisnis.com, JAKARTA – Pelaku usaha angkutan barang menyambut positif kereta api barang dari Pelabuhan Tanjung Priok menuju Gedebage, Bandung, Jawa Barat dan berharap pihak swasta bisa ikut berkontribusi tanpa beban biaya yang tinggi.

Yukki Nugrahawan Hanafi, Ketua Umum DPP Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) mengatakan diperlukan uji coba untuk melihat seberapa besar prospek bisnis angkutan berbasis kereta api ini.

19Kereta api kontainer Surabaya-Jakarta – Antara

Apalagi, kata Yukki, kereta api ini bisa menjadi solusi dari keterbatasan kapasitas angkutan darat. Misalnya saja, permasalahan jembatan Cisomang yang menghambar sirkulasi angkutan barang. Dia melihat adanya peluang positif jangka panjang atas pengoperasi kereta tersebut.

“Sekarang tinggal bagaimana PT Kereta Api mau bekerjasama dan terbuka dengan para pihak khususnya KA Logistik sendiri,” jelas Yukki kepada Bisnis, Senin (16/1).

Dia mengatakan, jika Kereta Api Logistik atau KALOG ingin mengoperasikan sendiri angkutan tersebut menurutnya progress bisnis tidak bisa bertahan lama. Yukki menjelaskan, ada beberapa bukti kereta bisa berjalan secara terjadwal dan teratur. Namun jadwal tersebut tidak konsisten, dan beberapa kali kereta tidak diberangkatkan.

“Jadi jangan karena pemerintah meminta ini diaktifkan kembali baru aktif, harus terjadwal,” terangnya.

Yukki menceritakan, beberapa masalah yang membuat kereta tersebut tidak berangkat adalah minimnya keterisian barang. ALFI Pusat dan DPW ALFI Jawa Barat, kata Yukki, sudah beberapa kali berkomunikasi dengan PT Kereta Api dan KALOG, namun perseroan tidak memberikan harga yang baik dan fair bagi pelaku usaha swasta.

“Ada perbedaan, dimana terjadi transfer pricing antara PT KA ke KALOG, dan akhirnya kami pelaku usaha logistik merasa mendapatkan harga yang lebih mahal dibandingkan KALOG menawarkan kepada pihak pemilik barang,” ungkapnya.

Yukki berujar adanya indikasi monopoli usaha jika tidak bisa terjadi kesepakatan antara swasta dengan anak usaha perusahaan pelat merah. Padahal dua tahun terakhir, anggota ALFI sudah berkeinginan untuk bekerjasama mengembangkan PT KA.

“Saya berharap kita bisa bekerjasama, jadi mari kita monitor bersama apakah kereta ini bisa berjalan dengan baik,” tambahnya.

sebelumnya, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan, kereta api Tanjung Priok-Gedebage ini bisa menjadi alternatif baru agar kegiatan ekspor-impor lebih efisien, tepat waktu, dan aman. Dia yakin moda transportasi ini akan mendorong peningkatan efisiensi logistik, mengurangi waktu bongkar muat atau dwelling time.

Menurutnya, penggunaan kereta peti kemas ini menjadi salah satu solusi yang tepat untuk mengatasi masalah logistik dari kawasan industri ke pelabuhan. Hal ini mengingat tarif kereta api lebih murah, lebih tepat waktu, keamanan barang lebih terjaga, serta relatif aman dari dampak kemacetan arus lalu lintas di jalan raya,

Kereta peti kemas jalur Tanjung Priok-Gedebage sebenarnya sudah dapat dimanfaatkan Juni 2016. Awalnya, jalur kereta peti kemas Gedebage hanya sampai stasiun Pasoso. Jalur peti kemas ini dibangun atas kerja sama PT Kereta Api Indonesia dengan PT Mitra Adira Utama, PT KA Logistik, dan PT Multi Terminal Indonesia.

Saat ini Gedebage juga memiliki pelabuhan darat (dry port) yang berada pada ketinggian 672 meter di ujung timur Kota Bandung. Stasiun kereta peti kemas di Pelabuhan Darat Gedebage memiliki dua jalur khusus untuk bongkar muat kontainer yang memiliki depo guna merawat puluhan gerbong. Tak hanya itu, di kawasan stasiun ini juga terdapat Terminal Peti Kemas Bandung (TPKB).

Source : bisnis.com