Timur Tengah Memanas, Harga Minyak ‘Mendidih’

Timur Tengah Memanas, Harga Minyak 'Mendidih'Harga minyak menyentuh level tertingginya dalam hampir dua minggu karena pemulihan pasar ekuitas global dan meningkatnya tensi di Timur Tengah.

Jakarta, CNN Indonesia — Harga minyak menyentuh level tertingginya dalam hampir dua minggu terakhir pada perdagangan awal pekan ini, Senin (19/2), yang disebabkan pemulihan pasar ekuitas global dan meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah. Namun, kenaikan harga masih dibatasi oleh sentimen terhadap kenaikan produksi minyak Amerika Serikat (AS).

Dilansir dari Reuters, harga minyak mentah berjangka Brent naik US$0,89 menjadi US$65,73 per barel pada pukul 18.02 waktu setempat. Di awal sesi perdagangan, Brent sempat menyentuh level US$65,75 per barel yang merupakan level tertinggi dalam sebelas hari.

Kenaikan juga terjadi pada harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) sebesar US$0,82 menjadi US$62,5 per barel setelah sebelumnya sempat melejit 1,44 persen, tertinggi sejak 7 Februari 2018.

Lihat juga:BPS Catat Perdagangan Januari Defisit US$670 Juta

Pasar saham Eropa menanjak untuk empat sesi perdagangan berturut-turut, dengan pasar saham global yang terkerek untuk enam sesi perdagangan, mengikuti aksi jual yang dipicu oleh ketakutan terhadap merangkaknya inflasi dan biaya pinjaman yang semakin tinggi.

“Pasar saham yang jinak memberikan dorongan [pada harga minyak]. Sama halnya dengan tensi geopolitik di Timur Tengah,” ujar Commerzbank dalam catatannya.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan pada Minggu (18/2) lalu, bahwa Israel dapat melawan Iran sendiri, tak hanya sekutunya di Timur Tengah, setelah insiden di perbatasan Syria membawa musuh Timur Tengah mendekati konfrontasi langsung.

Perdagangan diperkirakan akan melambat dibandingkan biasanya pada awal pekan seiring dengan liburnya pasar di AS dan China.

Selanjutnya, berdasarkan laporan Baker Hughes, jumlah rig minyak AS naik tujuh menjadi 798 rig, tertinggi sejak April 2015. Jumlah rig merupakan indikator jumlah produksi di masa mendatang.

Kenaikan jumlah tersebut juga menandakan pengebor menambahkan rig dalam empat minggu berturut-turut untuk pertama kalinya sejak Juni 2017. Jumlah rig di AS sendiri telah melejit dari tahun lalu yang berjumlah 597 rig yang aktif.

Lihat juga:Aprobi Jelaskan Soal Pembayaran Selisih Harga CPO Fund

Hal itu tak lepas dari aktivitas perusahaan energi yang meningkatkan belanja sejak medio 2016 saat harga minyak mentah mulai pulih dari kejatuhan selama dua tahun.

Kenaikan produksi minyak AS juga mengimbangi upaya Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya, termasuk Rusia, untuk memangkas produksi sebesar 1,8 juta barel per hari hingga akhir 2018.

Data InterContinental Exchange menunjukkan bahwa manajer keuangan telah memangkas posisi spekulasi harga bakal naik (bullish) pada Brent untuk hampir delapan bulan pada pekan yang berakhir 13 Februari 2018. (gir)

Source : cnnindonesia.com