Tagihan Cost Recovery di Semester I-2017 Capai Rp 64,7 T

Tagihan Cost Recovery di Semester I-2017 Capai Rp 64,7 T

Jakarta – Menteri ESDM, Ignasius Jonan, dalam berbagai kesempatan menekankan pentingnya efisiensi di sektor hulu migas. Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) telah diperintahkan menurunkan cost recovery.

Cost recovery adalah biaya operasi yang dikeluarkan oleh kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) untuk memproduksi migas, biaya tersebut dapat diklaim KKKS agar diganti oleh negara.

Sampai 30 Juni 2017, cost recovery yang sudah dikeluarkan sebesar US$ 4,87 miliar alias Rp 64,77 triliun (dengan asumsi kurs dolar Rp 13.300). Sedangkan pagu yang ditetapkan dalam APBN 2017 adalah US$ 10,58 miliar. Jadi cost recovery sampai tengah tahun adalah 46% dari batas maksimum.

“Alokasi biaya terbesar dalam cost recovery adalah untuk mendukung aktivitas operasi, yakni US$ 2,36 miliar atau sekitar 50%,” kata Kepala SKK Migas, Amien Sunaryadi, kepada detikFinance, Senin (10/7/2017).

Selain itu, pengeluaran terbesar untuk cost recovery berasal dari biaya depresiasi sebesar US$ 1,38 miliar atau 28% dari total cost recovery.

“Peningkatan alokasi biaya depresiasi ini karena banyaknya proyek yang onstream di 2015-2016,” ujar Amien.

Selain itu dalam cost recovery ada juga pengeluaran untuk investment credit, unrecovered cost, dan administrasi yang besarnya US$ 890 juta.

Sementara cost recovery untuk kegiatan eksplorasi alias pencarian cadangan minyak baru hingga pertengahan 2017 ini cuma US$ 240 juta alias 5% dari seluruh cost recovery.

Meski baru 46% dari batas yang ditetapkan APBN 2017, cost recovery pada tahun ini terancam bengkak, karena banyaknya cost recovery yang biasanya diklaim para Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) pada akhir tahun.

Pengeluaran besar untuk cost recovery pada akhir tahun terutama datang dari Blok Mahakam dan Lapangan Jangkrik. Kontrak Total E&P Indonesie di Mahakam akan habis per 31 Desember 2017, maka semua biaya yang belum diganti negara akan diklaim sebagai cost recovery pada akhir tahun ini.

Cost recovery Blok Mahakam yang diklaim Total pada akhir tahun ini diperkirakan mencapai US$ 900 juta alias Rp 11,97 triliun (dengan asumsi kurs dolar Rp 13.300). Lalu Lapangan Jangkrik yang sudah berproduksi pada Juni 2017 lalu sudah bisa mulai menagih cost recovery.

Tagihan dari Blok Mahakam itu sulit ditekan karena pengeluarannya sudah terjadi. Yang bisa dilakukan SKK Migas hanya memverifikasi kebenaran jumlah pengeluaran yang diklaim Total.

Begitu juga cost recovery yang diklaim Eni (kontraktor Lapangan Jangkrik), sulit untuk diturunkan karena depresiasi sudah disetujui sejak Plan of Development (PoD) bertahun-tahun lalu.

Untuk mengefisienkan cost recovery, upaya yang bisa dilakukan SKK Migas adalah mengontrol biaya operasi harian. Ini bisa ditekan karena dilakukan di tahun berjalan, bukan pengeluaran yang sudah terjadi dan telah disetujui di tahun-tahun sebelumnya. (mca/wdl)

Source : detik.com