Stok Minyak Naik, WTI Tergelincir

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak mentah Amerika Serikat (AS) bergerak lebih rendah pada perdagangan pagi ini, Rabu (14/2/2018), menyusul laporan industri yang menunjukkan berlanjutnya ekspansi persediaan minyak mentah dan bensin di AS.

Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Maret 2018 diperdagangkan di US$58,90, setelah ditutup di US$59,19 per barel di New York Mercantile Exchange pada perdagangan Selasa (13/2).

Adapun harga minyak Brent untuk pengiriman April 2018 berakhir naik 13 sen di US$62,72 per barel di ICE Futures Europe exchange yang berbasis di London. Minyak mentah acuan global tersebut diperdagangkan premium sebesar US$3,69 terhadap WTI.

Dilansir Bloomberg, harga minyak di New York kehilangan pijakannya setelah American Petroleum Institute (API) disebut melaporkan kenaikan stok minyak mentah nasional sebesar 3,95 juta barel pekan lalu, sedangkan pasokan bensin meningkat 4,63 juta barel.

Kenaikan bahan bakar tersebut akan menjadi yang terbesar sejak akhir Desember jika dikonfirmasikan oleh laporan Energy Information Administration (EIA) pada hari ini.

“Ini jelas kabar yang bearish. Kombinasi ini sedikit mengejutkan. Bila Anda menambahkannya pada kenaikan jumlah rig minyak pekan lalu, maka akan terus terjadi sentimen bearish,” ujar James Williams, presiden perusahaan riset energi WTRG Economics, seperti dikutip Bloomberg.

API juga melaporkan persediaan minyak mentah di Cushing turun 2,32 juta barel, sedangkan stok minyak sulingan naik 1,1 juta barel.

Di AS, stok minyak mentah diperkirakan naik 3,1 juta barel pekan lalu, menurut survei Bloomberg. Di Cushing, Oklahoma, pusat bagi jaringan pipa Amerika terbesar, persediaan minyak mentah kemungkinan turun 1,7 juta barel pekan lalu, menurut proyeksi yang dihimpun Bloomberg.

Sebelumnya, International Energy Agency (IEA) mengatakan persediaan minyak mentah di negara-negara berkekuatan ekonomi terbesar di dunia mengalami penyusutan terbesar dalam enam tahun pada Desember, bahkan saat pengebor minyak shale Amerika memompa lebih banyak minyak ke pasar dunia.

Di sisi lain, Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) mencatat rekor tingkat kepatuhan terhadap upaya pembatasan produksi bulan lalu, di tengah pengeboran yang agresif oleh para pengebor minyak shale Amerika.

Dalam sebuah laporan yang dirilis pada hari Selasa (13/2), IEA mengatakan bahwa surplus tersebut diimbangi oleh konsumsi yang lebih tinggi, sehingga meningkatkan perkiraan untuk pertumbuhan permintaan global tahun ini sekitar 100.000 barel per hari menjadi 1,4 juta barel per hari.

Source : bisnis.com