STOK AS REKOR TERTINGGI: Minyak Diprediksi Merosot

kilang-minyak-gas-bbm-011

JAKARTA—Harga minyak diprediksi merosot dalam jangka pendek akibat stok mingguan Amerika Serikat kembali menembus rekor tertinggi dan rencana pertemuan OPEC pada Juni mendatang menemui jalan buntu.

Pada perdagangan Selasa (10/5) pukul 16:55 WIB harga minyak WTI kontrak Juni 2016 meningkat 0,87% atau 0,38 poin menuju US$43,82 per barel. Artinya, sepanjang tahun berjalan harga sudah meningkat 8,01%.

Sementara harga minyak Brent kontrak Juli 2016 naik 1,56% atau 0,68 poin menjadi US$44,28 per barel. Sepanjang tahun berjalan harga bertumbuh 8,08%.

Morgan Stanley memaparkan, pada pekan lalu harga minyak menghijau akibat kebakaran di Kanada yang mengganggu proses produksi. Namun, tingkat penyedotan dapat kembali ke level normal dalam waktu seminggu seiring dengan bencana yang mereda.

IHS Energy mengestimasikan kebakaran hutan mempercepat penurunan pasokan domestik. Total produksi pasir minyak (oil-sands) pun merosot hingga 40% atau sekitar 1 juta barel per hari.

Angus Nicholson, Analis IG Ltd., menuturkan kebakaran yang terjadi di Kanada tidak menyebabkan kerusakan besar untuk infrastruktur energi. Setelah risiko tertangani, maka harga akan kembali bergerak dengan kecenderungan menurun (downtrend).

“Dalam jangka pendek, ada kasus yang cukup baik sehingga menarik harga ke atas US$40 per barel. Namun, pemicu utama harga di minggu ini ialah jumlah stok minyak mentah AS,” tuturnya seperti dikutip dari Bloomberg, Selasa (10/5).

Survei Bloomberg memperkirakan pasokan minyak mentah mingguan AS pada pekan lalu yang dilansir Rabu (11/5) kemungkinan bertambah 750.000 barel, sedangkan survei Reuters memprediksi peningkatan 500.000 barel. Sebelumnya, stok mencapai 534 juta barel yang menjadi rekor level tertinggi sejak 1929.

Data U.S. Energy Information Administration (EIA) menunjukkan produksi minyak mentah AS turun menjadi 8,94 juta barel per hari pada pekan yang berakhir 22 April, terendah sejak Oktober 2014. Dalam waktu yang sama, konsumsi bensin domestik naik 5,6% secara tahunan (y-o-y) menuju ke 9,4 juta barel per hari.

EIA memperkirakan rerata output sepanjang 2016 sebesar 8,6 juta barel per hari. Adapun pada Mei 2016, tingkat output akan kembali mencapai level terendah dalam dua tahun terakhir.

Miswin Mahesh, Commodities Strategist Barclays Capital, mengatakan investor juga menyoroti pengangkatan Klhalid Al-Falih sebagai Menteri Energi Arab Saudi yang baru. Pasalnya, mantan bos perusahaan minyak raksasa Aramco itu berpandangan rendahnya harga membuat pasar membutuhkan keseimbangan.

Hingga bulan lalu, minyak mentah menunjukkan rebound terkuat di tengah krisis keuangan global. Kenaikan harga sudah mencapai 80% dari posisi terendah pada Januari yang didorong oleh penurunan produksi di AS dan Libia, serta melemahnya dolar.

Namun, reli terancam memudar seiring dengan langkah Rusia dan negara-negara produsen utama di Timur Tengah menggenjot pasokan. Tingkat suplai diperkirakan surplus 1,5 juta barel per hari.

Adapun, sentimen lain yang memengaruhi pergerakan harga ialah situasi keamanan yang memburuk di sebagian besar wilayah penghasil minyak di Nigeria dan rencana pertemuan Ekuador dengan Venezuela untuk membahas harga sebelum pertemuan OPEC pada Juni.

Choice Equity Broking melalui publikasi risetnya menyampaikan dalam jangka panjang, prospek harga WTI dapat kembali menyentuh level US$40 per barel. Namun, pandangan bearish ini bisa berbalik bila minyak mentah menembus level resistance US$49 per barel.

“Secara keseluruhan, kami mempertahankan pandangan bearish untuk minyak mentah, terutama dalam tiga bulan ke depan,” papar laporan.

Faktor yang memengaruhi pergerakan harga dalam waktu dekat, sambung Choice, ialah saat ini OPEC masih belum memiliki kepastian sikap menjelang rapat pada Juni. Sebelumnya, perundingan mengenai pembekuan produksi pada April mengalami kegagalan.

Pekan lalu, OPEC mengadakan pertemuan di Wina, Austria untuk membahas poin-poin agar tingkat fundamental antara suplai dan permintaan minyak mentah dapat membaik. Namun, kemungkinan pembekuan produksi ini sangat bergantung pada perubahan sikap di pasar.

Lukman Otunuga, Research Analyst FXTM, menuturkan investor bullish juga menambah pembelian setelah data impor minyak mentah China bertumbuh 7,6%. Hal ini menimbulkan spekulasi penyerapan komoditas minyak masih cukup kuat, meskipun Negeri Panda sedang mengalami perlambatan ekonomi.

Akan tetapi, pencopotan Ali Al-Naimi dari posisi Menteri Energi Arab Saudi secara tiba-tiba memberikan kekhawatiran permasalahan surplus suplai akan semakin meningkat. Oleh karena itu, harga dapat semakin merosot tajam dalam jangka waktu menengah.

“Dari sudut pandang teknikal, apabila terjadi breakdown di bawah US$44 per barel, maka harga dapat menuju US$41,40 per barel,” tutur Lukman. (Reuters/Bloomberg)

Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Source : bisnis.com