SKK Migas Kaji Efisiensi Harga Gas Hulu

Duwi Setiya Ariyanti – Selasa, 30/08/2016 19:43 WIB

22

Bisnis.com, JAKARTA–Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi melakukan kajian terkait peluang penurunan harga gas di tungkat hulu.

Wakil Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) M.I. Zikrullah mengatakan hingga saat ini pihaknya masih meninjau kembali aspek-aspek apa saja yang bisa dieliminasi guna menurunkan harga jual gas hulu.

Secara umum, katanya, biaya produksi gas diambil dari biaya eksplorasi, biaya pengembangan dan rencana pengembangan.

Di sisi lain, proyek-proyek yang saat ini berjalan masih belum mendapat pengguna gasnya akibat tingginya harga jual gas.

Proyek tersebut, ujar Zikrullah, rata-rata disetujui rencana pengembangannya (plan of development/PoD) pada empat tahun lalu.

Dia menilai masih terdapat peluang penyesuaian harga yang berimbas pada penurunan harga jual gas.

“Ada perubahan harga kemungkinan bisa diefisiensikan makanya kami lihat lagi,” ujarnya di sela acara IndoPIPE 2016 Conference & Exhibition di Jakarta, Selasa (30/8/2016).

Dia menganggap kajian memang akan membutuhkan waktu. Kendati demikian, dia menilai kajian bisa dilakukan bersamaan tanpa mengganggu proses pengerjaan proyek.

Dengan komitmen kontraktor di lapangan tersebut yakni PT Pertamina EP Cepu (PEPC) dan ExxonMobil Cepu Limited (EMCL), proyek diharapkan mencapai tahap penyampaian keputusan akhir investasi (final investment decision/FID) pada tahun ini.

“Kalau teman-teman di PEPC, EMCL masih komitmen, ya paralel lah. Harus dong,” katanya.

Sementara Direktur Utama PT Pertamina (persero) Dwi Soetjipto mengatakan pihaknya berusaha agar bisa melakukan kegiatan di hulu seefisien mungkin. Dwi menuturkan harga gas yang lebih rendah masih berpeluang dilakukan.

Menurutnya, bila terkait pembeli gas belum bisa terselesaikan, pengembangan proyek sulit berjalan sesuai rencana yang dibuat.
“Di gas ini kan sebelum semua pembeli clear, kami enggak bisa eksploitasi.”

Berdasarkan head of agreement (HoA) yang diteken pada 2015, PT Pertamina (persero) menjadi pembeli utama gas dengan volume 100 juta kaki kubik per hari (million metric standard cubic feet per day/MMscfd) dan PT Pupuk Kujang Cikampek sebagai pembeli alternatif yang menyerap 85 MMscfd.

Pada perjanjian tersebut, terdapat klausul yang menyebut PT Pertamina (persero) akan menjadi pembeli altenatif bila PT Pupuk Kujang Cikampek tak bersepakat soal harga yang ditetapkan.

Namun, PT Pupuk Kujang Cikampek tak jadi membeli gas karena harganya yang ditawarkan dianggap terlalu mahal. Dengan demikian, tak bisa sesuai dengan skala ekonomi pengembangan industri pupuk.

“Kalau nanti harganya sesuai, diserap Pertamina semua.”

Editor : Rustam Agus

Source : bisnis.com