Skema Offshore Lebih Menguntungkan

 P engolahan gas secara offshore di Blok Masela sudah disetujui pada 2010. Kini, invenstor tengah merevisi rencana pengembangan. Dero Iqbal Mahendra

Pemilihan skema offshore (kilang terapung di lepas pantai) untuk pengolahan gas di Lapangan Abadi Blok Masela, Maluku, lebih menguntungkan bagi negara dan memberikan dampak pengembangan kawasan lebih tinggi.

Hal itu diungkapkan Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Amien Sunaryadi melalui pesan singkat kepada Media Indonesia, kemarin.

“Buat kami skema offshore atau floating liquefied natural gas (FLNG) lebih menguntungkan,” kata Amien.

Berdasarkan kajian SKK Migas, skema offshore menelan investasi sebesar US$14,8 miliar. Sebaliknya, kebutuhan dana untuk membangun jaringan pipa di daratan (skema onshore LNG/OLNG) di beberapa pulau di Maluku seperti di Pulau Tanimbar mencapai US$19,3 miliar, di Pulau Babar US$20,9 miliar, dan di Pulau Aru US$22,3 miliar.

Dari sisi penerimaan keuangan, hasil kajian LPEM-UI menyebutkan skema offshore memberi pemasukan ke negara sebesar US$51,8 miliar serta menumbuhkan produk domestik bruto hingga US$126,3 miliar. Dari sisi ketenagakerjaan, kilang terapung di Laut Arafura tersebut mampu menyerap 657 ribu orang.

Kepala Bagian Humas SKK Migas Elan Biantoro menambahkan, jika skema onshore yang dipilih dalam mengelola Blok Masela, dipastikan proyek tersebut molor. “Investor mesti menyiapkan proposal baru lalu menyampaikannya ke SKK Migas. Itu memakan waktu.”

Skema offshore, lanjut Elan, sebenarnya merupakan keputusan Kementerian ESDM pada 2009-2010, tetapi dengan kapasitas produksi lebih kecil, yakni 2,5 million ton per annum (mtpa). Namun, karena kapasitas tersebut ditambah menjadi 7,5 mtpa, investor harus merevisi rencana pengembangan (plan of development/PoD) Blok Masela. Revisi PoD itulah yang harus selesai tahun ini agar pemerintah dapat memutus investasi final (final investment decisions/FID) Blok Masela pada 2018. “Jadi, secara prinsip skema offshore sudah pernah disetujui.”

Mencari kesempatan
Direktur Eksekutif Institute for Essential Service Reform Fabby Tumiwa mengungkapkan perdebatan skema offshore dan onshore justru kontraproduktif bagi investor. “Jika investor hengkang, ada pihak yang mencari kesempatan, apalagi setelah mengetahui cadangan gas di Blok Masela lebih besar dari perkiraan.”

Fabby mencontohkan Grup Bakrie yang telah menikmati keuntungan hingga US$300 juta hanya dari menjual saham ketika mereka memperoleh PoD 1 Blok Masela pada 2008. Lalu Bakrie menjual kembali saham tersebut pada 2013.

Terkait dengan anggapan tingginya efek pengganda dari skema onshore, Fabby menilai pernyataan Menko Kemaritiman dan Sumber Daya Rizal Ramli hanya berbasiskan asumsi.

“Siapa mau investasi petrokimia di Saumlaki? Belum ada. Menurut LPEM-UI, skema offshore lebih baik,” ujar Fabby.

Pengamat migas dari Universitas Gadjah Mada, Tumiran, mengedepankan pentingnya dampak bagi masyarakat Maluku. “Saya harap ada pembangunan infrastruktur sehingga perekonomian masyarakat membaik,”

Wakil Presiden Jusuf Kalla menegaskan pemerintah kini masih terus mengkaji skema pengelolaan gas di Blok Masela tersebut. “Belum (memutuskan). Belum, ya.” (Arv/Pol/ PO/X-4)

 

Source: Media Indonesia, No. 12703/Tahun XLVII, 2 Maret 2016