Setelah Anjlok Pekan Lalu, Harga Minyak Kembali Stabil

Setelah Anjlok Pekan Lalu, Harga Minyak Kembali StabilPada perdagangan Senin (12/2) waktu setempat, harga minyak Brent hanya turun 0,3 persen menjadi US$62,59 per barel, sedangkan harga minyak mentah WTI naik tipis 0,2 persen menjadi US$59,29 per barel.

Jakarta, CNN Indonesia — Harga minyak dunia kembali stabil pada perdagangan Senin (12/2), waktu Amerika Serikat (AS), setelah pekan lalu tertekan. Hal itu seiring mulai pulihnya ekuitas global dari penurunan mingguan terbesar dalam dua tahun terakhir.

Harga minyak mentah berjangka Brent hanya turun US$0,2 atau 0,3 persen menjadi US$62,59 per barel. Sementara, harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) naik tipis US$0,09 menjadi US$59,29 per barel, atau naik 0,2 persen. WTI sempat menyentuh level US$60,83 per barel dalam sesi perdagangan.

“Hari ini, pasar mencoba kembali pulih. Hal ini terkait dengan pelemahan dolar (AS),” ujar Connecticut, Direktur Riset Pasar Tradition Energy Gene McGillian di Stamford, seperti dikutip dari Reuters, Selasa (13/2)

Pelemahan dolar AS membantu mendukung pasar minyak karena membuat harga minyak yang dihargai dengan dolar AS menjadi lebih murah di mata pemegang mata uang lain.

Analis Tyche Capital Advisor John Macaluso menilai, minyak mentah juga mendapatkan dukungan dari pedagang yang melepaskan posisi beli (long) pekan lalu dan mulai mencari pijakan untuk posisi beli kembali.

McGillian mengungkapkan, harga minyak mentah sempat naik di awal. Namun, kenaikannya diimbangi oleh kekhawatiran akan kenaikan produksi minyak AS bakal melampaui pemangkasan produksi yang digagas oleh Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC).

Laporan bulanan Badan Administrasi Informasi Energi AS (EIA) yang dirilis kemarin menyatakan produksi minyak shale AS diperkirakan naik di Maret 2018 sebesar 111 ribu barel per hari (bph) dari bulan lalu menjadi 6,76 juta bph.

EIA meramal produksi minyak mentah AS bakal melejit hingga 11 juta bph pada akhir tahun ini.

Lihat juga:Pemerintah Tunjuk Pertamina dan PGN Bangun Jaringan Gas

Macaluso menambahkan di awal pekan, pasar minyak kemungkinan akan digerakkan oleh faktor teknis sebelum EIA merilis data persediaan minyak fundamental pada pekan ini.

“Kita sekarang berada di dua hari sebelum angka-angka EIA (dirilis), di mana kita kemungkinan akan melihat peningkatan persediaan lagi,” ujar Macaluso.

Para analis meenilai konsumsi minyak tetap kuat.

“Pertumbuhan permintaan sangat kuat dan penurunan produksi di beberapa tempat, seperti Venezuela, membantu situasi. Jika permintaan tetap kuat, sepertinya OPEC akan memegang kendali pada 2019,” ujar Kepala Ahli Strategi Komoditas SEB Bjarne Schieldrop.

Lihat juga:Pemerintah Siap Patok Harga Gas di Pipa Jargas Sama Rata

Ahli Strategi PVM Oil Stephen Brennock menyatakan, besarnya dahaga China akan minyak tercermin saat China melampaui AS sebagai importir minyak mentah terbesar pada 2017.

Jumat lalu, perusahaan layanan perminyakan Baker Hughes menyatakan perusahaan energi AS menambah 26 rig minyak pada pekan terakhir, mendongkrak jumlah rig minyak di AS menjadi 791, tertinggi sejak April 2015.

“Kami tetap berpandangan pada posisi harga minyak akan turun (bearish) dan akan melihat lebih banyak penurunan harga minyak. Lonjakan minyak shale AS menunjukkan momentum yang kuat dan tingkat persediaan minyak AS bakal naik secara musiman dalam beberapa minggu yang akan datang seiring kilang masuk ke masa perawatan. Hal ini akan menantang narasi pengetatan pasar yang masih lazim setidaknya untuk sementara,” ujar Kepala Riset Makro dan Komoditas Norbert Ruecker Julius Baer dalam catatannya. (agi)

Source : cnnindonesia.com