Serangan Misil ke Suriah jadi Sentimen Penguatan Harga Minyak

Serangan Misil ke Suriah jadi Sentimen Penguatan Harga MinyakMeningkatnya tensi di kawasan Timur Tengah yang notabene menghasilkan seperempat produksi minyak dunia memberi dampak kejutan harga. (REUTERS/Stringer).

Jakarta, CNN Indonesia — Harga minyak melesat hari ini, Senin (10/4), waktu Amerika Serikat, setelah disokong oleh terhentinya produksi lapangan minyak terbesar di Libya baru-baru ini. Padahal, lapangan minyak ini baru saja mulai berproduksi lagi setelah terhenti awal April lalu.

Dikutip dari Reuters, Selasa (11/4), lapangan minyak Sharara ditutup pada hari Minggu waktu setempat setelah sebuah kelompok memblokir jaringan pipa yang menghubungkan lapangan tersebut ke terminal penampungan.

Pengurangan produksi ini juga dipengaruhi oleh ketegangan geopolitik pasca serangan misil AS ke Suriah, pekan lalu. Kendati Suriah memiliki produksi minyak yang tak signifikan, namun Timur Tengah menghasilkan seperempat produksi minyak dunia.

Meningkatnya tensi di kawasan tersebut berpotensi menghasilkan dampak kejutan terhadap harga minyak, meskipun negara-negara penghasil minyak jumbo, seperti Iran, Irak, atau Arab Saudi tak terpengaruh.

Hasilnya, harga Brent LCOc1 meningkat US$0,74 per barel ke angka US$55,98 per barel. Sementara itu, harga West Texas Intermediate (WTI) meningkat US$0,84 per barel ke angka US$53,08 per barel.

Harga minyak juga didukung oleh kesepakatan organisasi negara-negara pengekspor minyak dunia (Organization of the Petroleum Exporting Countries/OPEC) yang membatas produksi minyak sebesar 1,8 juta barel per hari selama enam bulan pertama tahun ini. Sebagai informasi, Libya dan Nigeria dikecualikan dari kesepakatan tersebut.

Sebelumnya, Menteri Perminyakan Kuwait Essam al-Marzouq berharap, produsen minyak tetap berkomitmen terhadap pemangkasan produksi dan meminta pembatasan produksi yang lebih tinggi lagi. Selain itu, ia pun melihat indikasi positif dari terjunnya persediaan minyak global.

Sayangnya, kenaikan harga malah mendorong negara lain untuk memproduksi minyak lebih banyak lagi, seperti AS. Ini yang kemudian membayangi kebijakan pemangkasan produksi OPEC.

Menurut Energy Information Administration (EIA), persediaan minyak di hub minyak berjangka AS di Cushing, negara bagian Oklahoma dan pantai teluk mencapai titik tertinggi di beberapa pekan terakhir. (bir)

Source : cnnindonesia.com