Sektor Hulu Migas Rawan Suap, Kok Bisa?

Sektor Hulu Migas Rawan Suap, Kok Bisa?

Jakarta – Wakil Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Sukandar, mengatakan praktik suap rentan terjadi di proses bisnis hulu migas. Mulai dari aktivitas di wilayah kerja (WK), studi seismik, eksplorasi, pengeboran (drilling), penemuan cadangan baru, hingga pengadaan .

“Saya tidak bilang pos mana saja yang rawan, tapi bisnis proses di hulu migas agak panjang. Mulai dari work atau WK kemudian pekerjaan pengadaan studi 3D, 2D, exploration, drilling dan lain sebagainya,” kata Sukandar di Kantor SKK Migas, City Plaza, Jakarta, Rabu (16/8/2017).

Besarnya peluang suap muncul mengingat, proses bisnis hulu migas melibatkan banyak pihak kontraktor, vendor, serta pihak-pihak lain yang terkait, terutama pada saat pengadaan. Tak hanya melibatkan banyak pihak, nilai proyek yang begitu besar juga memberi kesempatan oknum untuk menggelembungkan dana.

Baca juga: Pakai Sistem Ini, SKK Migas Cegah Praktik Suap

“Discovery field, approval yang melibatkan pengadaan tidak kecil, billion of US kadang-kadang. Itu akan melibatkan banyak pihak mulai dari manufaktur, suplier. Secara simple itu melibatkan uang yang sangat besar, sehingga lebih rawan suap,” ujarnya.

Oleh karena itu Sukandar mengharapkan, dengan adanya sistem manajemen anti suap yang tengah disiapkan SKK Migas, akan tercipta transparansi dan efisiensi pada seluruh proses bisnis hulu migas. Secara tidak langsung, harga migas yang dihasilkan akan lebih wajar.

“Kita berharap dengan implementasi ISO 37001:2016 semuanya akan berjalan dengan baik. Kita harapkan nantinya ada transparansi, ada efisiensi. Dari Anti Bribery Management System, juga akan menciptakan harga yang fair,” terangnya. (hns/hns)

Source : detik.com