Saudi & Irak Dukung Perpanjangan Pemangkasan Produksi, Harga Minyak Memanas

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak mentah Amerika Serikat (AS) menyentuh level tertinggi dalam lebih dari dua tahun pada akhir perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB), setelah dua negara terbesar di OPEC menyatakan dukungan perpanjangan upaya pemangkasan produksi.

Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Desember ditutup menguat 24 sen di US$54,54 per barel di New York Mercantile Exchange setelah bergerak fluktuatif selama sesi perdagangan.

Total volume yang diperdagangkan mencapai sekitar 26% di bawah rata-rata 100 hari.

Adapun harga minyak Brent untuk pengiriman Januari ditutup naik 13 sen di US$60,62 per barel di ICE Futures Europe exchange yang berbasis di London.

DIlansir Bloomberg, harga minyak mentah naik 0,4% di New York ke level penutupan tertinggi sejak Juli 2015. Menteri urusan perminyakan dari Arab Saudi dan Irak menyatakan keyakinan mereka bahwa kesepakatan antara OPEC dan pemasok minyak mentah utama lainnya akan diperpanjang hingga melampaui batas akhir kesepakatan pada Maret 2018.

Menteri Perminyakan Saudi Khalid Al-Falih mengungkapkan harapannya bahwa upaya memperbaiki kondisi pasar agar berlanjut.

“Saat negara-negara OPEC dan non-OPEC berkumpul dalam empat pekan mendatang di Wina, saya berharap bahwa kami akan memperbarui tekad kami untuk kembali memperbaiki persediaan global ke level normalnya,” ungkap Khalid di Bangkok.

Adapun Menteri Perminyakan Irak Jabbar al-Luaibi mengatakan kepada wartawan di Baghdad bahwa pihaknya mendukung keputusan OPEC untuk membantu mendukung harga minyak. Kuwait juga mengharapkan upaya perpanjangan untuk dirumuskan pada pertemuan di Wina pada 30 November.

Arab Saudi dan Irak bersama-sama memberi kontribusi hampir separuh dari total produksi OPEC.

“Ada optimisme yang berkembang di antara para investor mengenai keberlanjutan kesepakatan yang dipimpin oleh OPEC,” ujar Michael Lynch, Presiden Strategic Energy & Economic Research di Winchester, seperti dikutip dari Bloomberg, Jumat (3/11/2017).

“Kami melihat pasar yang lebih seimbang dari yang telah kita alami sejak 2014,” lanjutnya.

Harga minyak telah naik lebih dari 15% sejak awal September didukung tanda-tanda bahwa pasokan global semakin ketat dan OPEC beserta sejumlah produsen berpotensi memperpanjang upaya mereka.

Sementara itu di Amerika Serikat (AS), Energy Information Administration (EIA) melaporkan bahwa jumlah stok minyak mentah AS turun ke level terendah sejak Januari 2016 pekan lalu.

Source : bisnis.com