Rizal Ramli Optimis Pemerintah Bangun Blok Masela di Darat

Meskipun pembangunan kilang Blok Masela belum diputuskan pemerintah, apakah akan melalui floating di laut atau pipanisasi di darat, tetapi Menko Maritim dan Sumberdaya Rizal Ramli menegaskan bahwa pembangunan lapangan gas abadi itu akan dilakukan melalui kilang di darat (onshore).

Keputusan itu diambil setelah dilakukan pembahasan secara menyeluruh dan hati-hati dengan memperhatikan masukan dari banyak pihak. Pertimbangannya, pemerintah sangat memperhatikan multiplier effects serta percepatan pembangunan ekonomi di wilayah Maluku, Indonesia Timur,” ujar Rizal Ramli, dalam siaran pers yang diterima Maritim, pekan lalu.

Berdasarkan kajian Kemenko Maritim dan Sumber Daya, katanya, biaya pembangunan kilang di darat (onshore) sekitar US$16 miliar. Sedangkan jika dibangun di laut (offshore), biayanya mencapai US$22 miliar. Dengan demikian, kilang di darat lebih murah US$6 milliar dibanding dengan membangun di laut.

Angka ini sangat berbeda dengan perkiraan biaya dari Inpex dan Shell. Mereka menyatakan, pembangunan kilang offshore hanya US$14,8 miliar, sedangkan pembangunan di darat mencapai US$19,3 miliar.

“Untuk memastikan kebenarannya, kita tantang mereka. Jika ternyata biaya pembangunan di laut membengkak melebihi US$14,8 milyar, maka Inpex dan Shell harus bertanggungjawab membiayai kelebihanannya, tidak boleh lagi dibebankan kepada cost recovery. Faktanya Inpex tidak berani. Ini menunjukkan mereka sendiri tidak yakin dengan perkiraan biaya yang mereka buat,” papar Rizal.

Dalam kaitan ini, Pemerintah Indonesia bersikap hati-hati. Pemerintah juga belajar dari pengalaman pembangunan kilang ofshore di Prelude, Australia, yang mengalami keterlambatan dan pembengkakan biaya cukup besar. Prelude telah menghabiskan biaya US$12,6 milyar, padahal kapasitasnya hanya 3,6 juta ton/tahun, atau 48% dari kapasitas Masela (7,5 juta ton/tahun).

Menurut Rizal Ramli, seandainya pembangunan kilang dilaksanakan di laut, maka Indonesia hanya akan menerima pemasukan US$2,52 miliar/tahun dari penjualan LNG. Angka itu diperoleh dengan asumsi harga minyak US$ 60/barel.

Sebaliknya, dengan membangun kilang di darat, LNG sebagian bisa dimanfaatkan untuk industri pupuk dan petrokimia. Dengan demikian, negara bisa memperoleh revenue mencapai US$6,5 miliar/tahun.

Presiden menginginkan pembangunan kilang Masela di darat. Beliau sangat memperhatikan manfaatnya dan multiplier effect-nya yang jauh lebih besar banding jika kilang dibangun di laut. Dengan membangun kilang di darat, akan lahir industri pupuk dan petrokimia. Kita bisa mengembangkan Selaru yang berjarak 90 km dari Blok Masela, sebagai Balikpapan yang baru,” ungkap Rizal Ramli.

Selain itu, tokoh dan masyarakarat Maluku menginginkan agar kilang Masela dibangun di darat untuk mempercepat pembangunan Maluku. Dukungan yang sama juga diberikan oleh Ketua MPR, DPD dan BPK.

Cadangan 70 tahun

Menko Maritim juga menilai kekhawatiran Inpex akan keluar dari proyek pengembangan Blok Masela sangat berlebihan. Pasalnya, Inpex sudah menghabiskan waktu bertahun-tahun dan investasi sekitar US$2 miliar. Perusahaan itu tidak akan meninggalkan Blok Masela yang memiliki cadangan lebih dari 20 TFC (trillion cubic feet). Dengan asumsi diproduksi 1,2 juta kaki kubik/hari, maka cadangan gas bisa dimanfaatkan sampai 70 tahun.

Itulah sebabnya, Inpex diyakini tidak akan keluar dari proyek ini. Namun jika ternyata Inpex benar-benar keluar, Rizal yakin banyak investor dari negara lain yang sangat berminat meneruskannya.

Sebelumnya, Wakil Presiden Jusuf Kalla menyatakan, pemerintah belum memutuskan pengembangan lapangan gas abadi Blok Masela di Laut Arafuru. Apakah membangun kilang gas cair (LNG) terapung di tengah laut (floating) atau melalui kilang LNG di darat.

Menurut Wapres, pemerintah harus hati-hati mengambil keputusan. “Jadi perlu hati-hati, hitungannya juga harus baik,” ujarnya seraya menambahkan, keputusan pengembangan Blok Masela ada di tangan Presiden Jokowi.

Source : Maritim (Pelopor Berita Kemaritiman) – No. 894 Tahun XVII – 01-07 Maret 2016