RI Perlu Perbaiki Prestasi di Level Asean

Abdul Rahman Kamis, 02/03/2017 — 08:26 WIB

Pelabuhan CigadingPelabuhan Cigading

JAKARTA — Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia mencatat industri logistik Indonesia masih tertinggal ketimbang negara tetangga meskipun menjadi kekuatan ekonomi terbesar di Asia Tenggara.

Ketua Umum DPP Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Yukki Nugrahawan Hanafi mengatakan posisi Indonesia berada di urutan keempat di bawah Singapura, Malaysia dan Thailand.

Menurutnya, salah satu penyebabnya adalah Indonesia terlambat mengantisipasi perubahan ekonomi yang terjadi pada era 90-an. “Pada era 70 dan 80-an kita masih sama dengan Singapura, tapi setelah itu tertinggal. Itu karena kita kurang cepat melihat perubahan yang ada,” katanya kepada Bisnis di Jakarta, Rabu (1/3). Selain itu, dia menilai pemerintah belum mengoptimalkan transportasi laut sebagai angkutan utama.

Sebagai negara dengan bentang laut yang lebih besar, imbuhnya, tidak seharusnya memberikan porsi anggaran yang lebih besar untuk darat. Menurutnya, transportasi dan logistik punya peran penting untuk meningkatkan daya saing bangsa terutama dalam hal stabilisasi harga dan integrasi ekonomi. “Sekarang pemerintah mulai mendorong untuk semua moda transportasi bergerak.

Dengan langkah itu tentunya ada rasa optimistis,” imbuhnya. Yukki menilai Indonesia memiliki posisi strategis di pasar logistik karena memiliki volume perdagangan dan populasi penduduk yang besar. Namun, dia menyatakan masih ada beberapa hambatan yang harus dihadapi seperti biaya pengiriman logistik yang tinggi, keterbatasan infrastruktur hingga kualitas SDM.

Padahal, Indonesia kerap menjadi negara sasaran investor sesuai dengan data Asean Federation of Freight Forwaders Associations (AFFA). Hal senada disampaikan Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Perhubungan Carmelita Hartoto. Dia menilai sudah seharusnya Indonesia sangat diperhitungkan sebagai negara dengan luas wilayah dan jumlah penduduk terbesar di Asean.

“Bukan saja di level regional tetapi juga global,” katanya. Oleh karena itu, dia menilai ajang seminar dan pameran logistik level internasional seharusnya menjadi peluang bagi pelaku industri logistik di Indonesia untuk mengukur diri. Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) Zaldy Ilham Masita menilai bisnis logistik merupakan bisnis yang memiliki pertumbuhan cepat pada kisaran 15% — 20% per tahun.

Namun, dia menambahkan banyak perusahaan yang tidak berkembang lantaran terhambat oleh beberapa kendala seperti infrastruktur, kurangnya SDM yang profesional, dan minimnya kesadaran untuk berkolaborasi.

TUAN RUMAH

Bulan ini, Indonesia ditunjuk sebagai tuan rumah pameran logistik CeMat Southeast Asia, TransAsia Indonesia dan ColdChain Indonesia yang digelar di ICE BSD City, Tangerang Selatan.

Indonesia pertama kali dipercaya menghelat pameran intralogistik internasional. Pameran dan konferensi yang diselenggarakan selama 2-4 Maret 2017 itu akan dihadiri peserta dari 16 negara seperti Malaysia, Singapura, Cina, India, Taiwan, Jepang, Jerman, Swiss, Thailand, Inggris, Australia dan Itali.

Sebanyak 5.000 peserta diperkirakan akan hadir. Penyelenggaraan CeMat Southeast Asia mendapatkan du kungan dari ALFI, ALI, Ke men terian Perhubungan, Ke menterian Perindustrian, dan Kemen terian Pekerjaan Umum.

Editor : Mia Chitra Dinisari

Source : bisnis.com