Rencana Kilat Menyerap Gas Masela

November 28 / 2016 : 07:18 WIB
Oleh : Duwi Setiya Ariyanti
21Bisnis.com, JAKARTA–Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral telah menyiapkan rencana untuk menyerap gas Masela dengan meminta daftar industri berbasis gas yang akan dibangun di sekitar proyek

Direktur Industri Kimia Hulu Kementerian Perindustrian Muhammad Khayam mengatakan mengakui pembahasan mengenai alokasi gas Masela baru dilakukan secara intens pada sebulan belakangan. Beberapa perusahaan pun membuat perencanaan secara kilat untuk menyerap gas Masela.

“Kan semuanya baru. Baru sebulan terakhir ini [melakukan pembahasan pemanfaatan gas],” ujarnya saat dihubungi Bisnis, Minggu (27/11/2016).

Menurutnya, sejak pengajuan ini belum ada hasil uji kelayakan atau feasibility study (FS) untuk membangun pabrik. Kapasitas pabrik yang akan dibangun pun belum diketahui. Bahkan, dia menyebut terdapat perusahaan yang juga akan menyerap gas dari proyek Tangguh Train III di Teluk Bintuni yang beroperasi pada 2020 yaitu PT Pupuk Indonesia. Dengan demikian, industri pengguna gas harus menghitung secara cepat agar bisa mendapat jatah gas Masela.

“Investor itu punya kelayakan tadi ya kan, dia [pembangun pabrik petrokimia] enggak tahu kalau Masela jadi. Belum bikin FS-nya, FS kan yang jadi dasar perencanaan,” katanya. Sementara, pihaknya telah mengusulkan alokasi untuk tiga perusahaan yang akan membangun pabrik di sekitar proyek kepada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.

Adapun, perusahaan tersebut yakni PT Pupuk Indonesia dengan kebutuhan gas 240 juta kaki kubik per hari (million standard cubic feet per day/MMscfd), PT Kaltim Methanol Industri dengan 130 MMscfd dan PT Elsoro Multi Pratama dengan kebutuhan 100 MMscfd. PT Pupuk Indonesia akan membangun pabrik metanol, olefin dan poliolefin. Sementara, PT Kaltim Methanol dan PT Elsoro Multi Pratama untuk membangun pabrik metanol.

Pembangunan pabrik petrokimia diperkirakan membutuhkan biaya US$3,9 miliar dengan pasokan gas yang dimulai pada 2024. Dia menilai pengajuan tersebut masih rencana tahap awal. Perubahan masih mungkin terjadi. Oleh karena itu, pihaknya pun menyiapkan perusahaan lain yang siap memanfaatkan gas tersebut. “Itu [US$3,9 miliar]untuk ketiga industri. Dibangunnya bertahap,” katanya. Ketersediaan fasilitas perhubungan, katanya, dibutuhkan untuk menunjang kegiatan. Tanpa adanya fasilitas tersebut, investor tak akan tertarik menanamkan modalnya guna membangun industri turunannya.

Pasalnya, komposisi gas Masela 81% di antaranya merupakan jenis C1 atau metana. “Cuma nanti investor tertarik enggak lihat fasilitas yang tersedia. Ada pelabuhan, pelabuhan juga penting sekali bagi industri kimia,” tutur Khayam.

Menurutnya, lokasi di sekitar Masela merupakan pulau-pulau kecil yang sulit untuk membuat kilang LNG dan pabrik turunannya di lokasi yang sama. Adapun, sebelumnya pernah disebutkan bahwa pilihan pulau lokasi proyek di Pulau Yamdena, Pulau Selaru dan Pulau Aru. Pulau Aru memiliki luas yang cukup untuk membangun kilang dan industri pemanfaat gasnya yaitu 6.325 kilometer persegi. Pulau Yamdena luasnya 3.333 km persegi dan Pulau Selaru 3.667 km persegi.

Bila dibandingkan, pulau yang terluas hanya 30% dari luas Teluk Bintuni yakni 20.841 km persegi. Keputusan final pemilihan lokasi, katanya, akan diputuskan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) kendati kontraktor pun mengajukan usulan. “Nanti ESDM yang menentukan [lokasinya],” katanya.

Source : bisnis.com