PT Pan Maritime – Tunda Investasi Penambahan Kapal

Perusahaan pelayaran penunjang kegiatan penambangan lepas pantai (offshore), PT Pan Maritime Wira Pawitra (PMWP) memutuskan menunda investasi berupa realisasi pengadaan satu unit kapal baru dan mengupayakan utilisasi pengoperasian armada di atas 80 persen pada tahun 2016 ini serta mempertimbangkan langkah-langkah inovatif agar seluruh kapal yang dimiliki dapat dioperasikan secara optimal.

0001 (2)

Nova Y Mugijanto, Managing Director PMWP mengungkapkan hal itu kepada BANDAR MEDIA dalam suatu percakapan di ruang kerjanya, di Hastacentra Building, Kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan beberapa waktu lalu.

Penundaan investasi itu, lanjutnya berkaitan dengan kondisi industri hulu minyak dan gas (migas) yang sedang dalam berfluktuatif yang cenderung mengarah ke pelemahan harga hilir hasil industri migas.

“Seluruh perusahaan pelayaran yang beraktivitas mendukung operasi kegiatan offshore sedang menghadapi kondisi berat menghadapi kenyataan di mana industri hulu migas sedang dalam menghadapi kelesuan, bahkan ada yang menutup operasi. Kondisi tersebut berimbas pada kegiatan penunjang seperti kapal-kapal penunjang kegiatan offshore.”

Nova menyebut, beratnya kondisi tergambar dari adanya pemutusan kontrak kerja yang disepakati oleh perusahaan pelayaran dengan perusahaan migas.

“Seluruh perusahaan pelayaran penunjang kegiatan offshore mengalami renegosiasi kontrak berdasarkan perintah SKK Migas. Masih bagus kalau hanya sekedar renegosiasi kontrak yang rata-rata mengalami penurunan nilai antara 20-30 persen. Bagaimana kalau mengalami penutusan kontrak? Kita mau bilang apa?”

IMG-20160323-WA0001PMWP, lanjutnya, sempat juga mengalami terjun bebas saat utilisasi armada yang dimiliki berada di angka 60% pada awal tahun 2015 lalu. Ketika itu dua kapal baru milik PMWP baru saja diterima dari galangan PT Caputra Mitra Sejati (Desember 2014) yang dipercayakan membangunnya. Bahkan, satu unit kapal harus lego jangkar menunggu kontrak baru.

Dalam kondisi itu, manajemen mengambil langkah-langkah guna menjaga tetap berjalannya perusahaan dengan meningkatkan efisiensi dan memperketat belanja usaha dan investasi baru. Langkah-langkah tersebut merupakan resep ampuh dalam upaya memperkuat konsolidasi ditengah kondisi sulit.

Alhasil, tidak ada satu orang pun karyawan yang mengalami pemutusan hubungan kerja. Bahkan lebih dari itu, optimisme usaha berhasil ditumbuhkan. Hasilnya, kinerja mengalami peningkatan sehingga utilisasi armada pun turut tumbuh hingga mencapai 80 persen.

DIVERSIFIKASI

Optimisme itu terus dipertahankan hingga 2016 ini. Nova percaya, kondisi berat yang dialami perusahaan pelayaran khususnya perusahaan pelayaran penunjang kegiatan industri hulu migas akan segera berakhir.

“Kondisi seperti ini bukan hal yang pertama terjadi. Tahun 1983 juga pernah terjadi. Bahkan pada 1998 lalu pun berulang lagi. Setelah itu kondisi membaik hingga kondisi serupa terjadi lagi sejak akhir 2014 lalu,” kata Nova.

Guna mengantisipasi kondisi serupa berkepanjangan, perusahaannya tengah mengkaji peluang-peluang lainnya di luar kegiatan industry hulu migas.

“Intinya bagaiman bisa mengoptimalkan seluruh armada yang ada. Kalau kondisi industri migas terus merosot tentunya diperlukan langkah-langkah sesegera mungkin agar operasi armada tidak terhenti.  Kami sedang mengkaji langkah-langkah deversifikasi. Bagaimana konkritnya, saya belum dapat mengungkapkannya sekarang,” tegas Nova.

Memang tidak hanya di sektor industri hulu migas saja yang sedang mengalami penurunan. Sektor lainnya seperti di industri penambangan batu bara jutru lebih dahulu mengalami pelemahan.

“Ini menjadi tantangan tersendiri dan kami harus mampu mencari solusi agar armada tetap beroperasi,” tegas Nova.

Source : BandarMedia – Edisi 129IApril 2016