PROYEKSI HARGA – Minyak Diprediksi Bisa Sentuh US$6

Hafiyyan – Rabu, 01/06/2016 06:55 WIB

kilang-minyak-1Harga minyak mentah pada Mei 2016 mencapai level bulanan tertinggi sejak 2011

JAKARTA—Harga minyak mentah pada Mei 2016 mencapai level bulanan tertinggi sejak 2011. Dengan semakin menguatnya faktor fundamental, harga berpotensi menyentuh posisi US$60 per barel.

Pada perdagangan Selasa (31/5) harga minyak WTI kontrak Juli 2016 naik 0,13 poin atau 0,26% menuju US$49,46 per barel. Angka tersebut menunjukkan harga meningkat 20,08% sepanjang tahun berjalan

Dalam waktu yang sama, harga minyak Brent kontrak Juli 2016 merosot 0,28 poin atau 0,56% menjadi US$49,48 per barel. Artinya, harga sudah terkerek 20,72% sepanjang 2016.

Robert Rennie, Global Head of Currency and Commodity Strategy Westpac Banking Corp., mengatakan pada Mei 2016, harga minyak mengalami kenaikan bulanan tertinggi dalam lima tahun terakhir seiring dengan adanya  gangguan produksi di Nigeria dan Kanada, serta optimisme rapat OPEC pada 2 Juni 2016.

Serangan militan membuat produksi di Nigeria berkurang ke tingkat terendah dalam dua dekade terakhir. Sementara itu output Kanada berkurang hingga 1,2 juta barel per hari akibat kebakaran hutan.

Meskipun demikian, Robert menyangsikan peluang rapat OPEC dalam mencapai kesepakatan. Pasalnya, Iran menegaskan tidak akan memangkas suplai dan Arab Saudi tidak akan berbuat banyak dalam menstabilkan pasar.

“Harga minyak butuh sentimen pendorong yang lebih besar untuk melampaui level US$50 per barel,” tuturnya seperti dikutip dari Bloomberg, Selasa (31/5).

Sultan Bin Saeed Al Mansoori, Menteri Perekonomian Uni Arab Emirat (UEA), berpendapat harga minyak mentah berpotensi mencapai US$60 per barel pada tahun ini. Pergerakan tingkat permintaan dan produksi akan seimbang lebih cepat.

Senada, Mario Maratheftis, Global Chief Economist Standard Shartered Plc., menyampaikan harga minyak Brent akan menyentuh US$60 per barel dengan proyeksi pasokan menurun dan permintaan menguat.

Menurutnya nilai jual minyak mentah melonjak 32% tahun ini setelah melewati US$50 pekan lalu akibat terkoreksinya stok AS dan menguatnya penyerapan India serta negara-negara berkembang lainnya.

Al Maha Financial Services Llc. dalam publikasi risetnya Selasa (31/5) memaparkan harga minyak WTI terangkat di awal musim panas seiring dengan permintaan yang menuju masa puncak. Meskipun demikian, pasar masih terbebani peningkatan produksi di Timur Tengah yang sebagian besar membidik konsumen di Asia.

Dalam waktu dekat, investor berharap rapat OPEC menghasilkan kebijakan strategis dalam memulihkan pasar. “Dengan sejumlah pihak yang meramalkan harga berpotensi menyentuh level US$60 per barel, Arab Saudi sebagai pimpinan OPEC harus melakukan sesuatu,” tulis Al Maha.

JBC Energy memaparkan kemarin harga minyak mentah Brent jatuh akibat peningkatan produksi di Timur Tengah. Sementara minyak WTI sebagai patokan AS naik lebih tinggi sebagai pertanda mulai naiknya permintaan di musim panas.

Menurut salah satu sumber, Irak akan memasok 5 juta barel minyak mentah untuk mitra perusahaan internasionalnya pada bulan depan. Negara Timur Tengah lainnya juga berencana memperkuat pangsa pasar.

Sebagai produsen kedua terbesar di OPEC, Irak sudah menargetkan volume ekspor minyak mentah pada bulan depan sebesar 3,47 juta barel per hari. Berdasarkan catatan JBC, impor Asia dari Irak sudah meningkat 13% secara tahunan (yoy) pada April 2016.

Arab Saudi, eksportir minyak mentah terbesar di dunia, dan sesama produsen OPEC seperti Kuwait, Iran, dan UEA juga berencana meningkatkan pasokan di kuartal III/2016. Alhasil, pertemuan 13 anggota OPEC pada Kamis (2/6) akan mengatur kebijakan kelompok yang terfokus pada pangsa pasar dibandingkan upaya menstabilkan harga.

Meskipun minyak masih diperdagangkan mendekati US$50 per barel dan menumbuhkan optimisme pasar, sentimen tersebut lebih dipengaruhi faktor insidental pengurangan produksi di sejumlah negara dan proyeksi berkurangnya pasokan global di semester kedua.

Sayangnya, sampai saat ini OPEC masih belum melakukan tindakan signifikan untuk membantu mendorong pemulihan harga. “Namun, dengan asumsi fundamental dan hadirnya Menteri Perminyakan Arab Saudi yang baru, kemungkinan masih ada skenario alternatif,” papar JBC.

Editor : Gita Arwana Cakti

Source : bisnis.com