Proyek Gas Laut Dalam Jangkrik Beroperasi Lebih Cepat

Proyek Gas Laut Dalam Jangkrik Beroperasi Lebih CepatOperasi oleh perusahaan migas asal Italia, Eni, tersebut lebih cepat dibandingkan dengan jadwal onstream semula yaitu pada Juni 2017 mendatang. (ANTARA FOTO/M Agung Rajasa)

Jakarta, CNN Indonesia — Perusahaan migas asal Italia, Eni mengumumkan proyek migas laut dalam di lapangan Jangkrik dan Jangkrik North East telah beroperasi pada bulan Mei ini. Operasi tersebut lebih cepat dibandingkan dengan jadwal onstream semula yaitu pada Juni 2017 mendatang.

Produksi perdana ini disalurkan melalui sepuluh sumur bawah laut yang terhubung dengan Jangkrik Floating Production Unit (FPU) yang baru saja dibangun. Rencananya, produksi gas dari laut dalam Selat Makassar ini akan mencapai 450 juta kaki kubik per hari (MMSCFD) secara bertahap, atau setara dengan 83 ribu barel setara minyak per hari (BOEPD).

Setelah diproses di atas FPU, gas kemudian dialirkan melalui pipa sepanjang 79 kilometer (km) ke fasilitas penerima di Darat (Onshore Receiving Facility), yang juga baru dibangun oleh Eni, hingga tiba di kilang gas alam cair (Liquefied Natural Gas/LNG) milik Badak NGL di Bontang, Kalimantan Timur.

Chief Executive Officer Eni Claudio Descalzi menyatakan kegembiraannya karena produksi sudah bisa dimulai hanya 3,5 tahun berselang sejak rencana pengembangannya (Plan of Development/PoD) disetujui pemerintah. Menurutnya, ini membuktikan bahwa Eni mampu pengembangan proyek secara cepat.

Sebagai informasi, PoD lapangan Jangkrik disetujui tahun 2011, sementara Jangkrik North East disetujui tahun 2013. Persetujuan PoD Jangkrik North East mencantumkan bahwa akan ada integrasi pengembangan lapangan Jangkrik dalam satu proyek tunggal yang dinamakan Proyek Komplek Jangkrik.

“Kami merasa bangga atas apa yang telah kami capai dengan proyek Jangkrik ini. Penyelesaian proyek dan dimulainya produksi lebih cepat dari jadwal semakin mengukuhkan strategi dan kemampuan global Eni,” ujar Descalzi dikutip melalui siaran pers, Selasa (16/5).

Lebih lanjut ia mengatakan, FPU Jangkrik nantinya juga akan digunakan untuk penghubung rencana produksi gas dari lapangan Marakes yang baru ditemukan perusahaan baru-baru ini dan direncanakan bisa berproduksi dua tahun mendatang.

“Kami juga akan menggabungkan strategi eksplorasi dan model operasional dekat lapangan serta memaksimalkan pengembangan terintegrasi proyek-proyek kami di Indonesia,” pungkasnya.

Lapangan Jangkrik dan North East Jangkrik merupakan bagian dari Wilayah Kerja (WK) Muara Bakau yang dioperatori anak usaha Eni, Eni Muara Bakau BV.

Di dalam mengelola blok tersebut, Eni mendapatkan hak partisipasi sebanyak 55 persen. Sementara itu, sisanya dipegang oleh Engie E&P, melalui anak usahanya GDF SUEZ Exploration Indonesia BV, sebesar 33,3 persen dan PT Saka Energi Muara Bakau sebesar 11,7 persen.

Rencananya, sebagian besar produksi lapangan Jangkrik akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan domestik, di mana PT Pertamina (Persero) rencananya akan menyerap gas yang dialokasikan untuk domestik sebesar 1,4 juta ton, setelah melakukan Perjanjian Jual Beli Gas (PJBG) di tahun 2015. (gir)

Source : cnnindonesia.com