Prospek Emiten Pelayaran – Harga Minyak Bayangi Kinerja

Jakarta – Kalangan analis memprediksi emiten pelayaran yang bermain di segmen jasa eksplorasi minyak dan gas masih akan mengalami tekanan berat dari gejolak harga minyak.

Emiten dinilai perlu melakukan efisiensi dan diverifikasi bisnis agar laju bisnis tidak tenggelam.

Analis Investa Saran Mandiri, Hans Kwee, mengatakan kinerja emiten akan sangat bergantung pada pergerakan harga minyak. Harga minyak yang terus bergejolak menyebabkan perusahaan migas melakukan efisiensi dengan mengurangi aktivitas eksplorasi.

Akibatnya, emiten kehilangan potensi pendapatan akibat pembatalan kontrak maupun pengurangan pendapatan akibat negosiasi tarif sewa.

“Dalam 2-3 tahun belum akan mengalami recovery, katalis positifnya memang dari pengurangan produksi minyak (minyak dunia), tetapi sulit untuk expert harga minyak akan mencapai US$60 – US$70 (per barrel),” jelasnya kepada Bisnis, Minggu (10/4).

Berdasarkan data Bloomberg, harga minyak WTI per 8 April 2016 mencapai US$39,72 per barrel, naik 6,6% sedangkan harga minyak Brent naik 6,37% menjadi US$41,94 per barrel. Harga minyak dunia  sempat mencapai level terendah dalam 13 tahun terakhir pada Februari 2016 sebelum merangkak ke harga saat ini.

Menurut Hans, di tengah gejolak harga minyak, emiten perlu melakukan efisiensi untuk menjaga arus kas. Di samping itu diverifikasi bisnis juga perlu dipertimbangkan untuk mencari sumber pendapatan  lain yang lebih menjanjikan.

Sepanjang tahun lalu, kinerja tiga emiten yang bergerak di bidang jasa pendukung sektor hulu migas memang terhempas penurunan harga minyak PT. Logindo Samuderamakmur Tbk, PT. Wintermar Offshore Marine Tbk, dan PT. Humpuss Intermoda Transportasi Tbk, kompak mencatat penurunan pendapatan. Pendapatan perseroan turun karena armada kapal lebih banyak melego jangkar seiring penundaan eksplorasi migas.

Presiden Direktur LEAD, Eddy Kurniawan Logam, mengatakan selain tingkat utilisasi kapal turun, tarif sewa kapal juga merosot. “Padahal, kapal-kapal tersebut memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pendapatan perseroan,” ujarnya.

Tahun lalu, pendapatan LEAD turun 32% menjadi US$47,12 juta sedangkan laba bersih tergerus  99,75% hingga tinggal tersisa US$49,293. Eddy menjelaskan, situasi bisnis saat ini masih sangat menantang karena harga minyak tak menentu.

Direktur Keuangan LEAD, Sundap Caruli, menambahkan tahun ini perseroan akan mengandalkan kontrak yang sudah ada dan kontrak pendek untuk menunjang pertumbuhan kontrak sebesar 8% – 10%.

Hingga tahun lalu, LEAD masih memiliki kontrak senilai US$125 juta. Sundap menyebut, kontribusi pendapatan  dari kontrak jangka pendek berkisar 25% – 30% terhadap total pendapatan.

Nasib kurang beruntung juga menimpa WINS. Tahun lalu, WINS menderita rugi hingga US$5,69 juta sepanjang 2015.

Head of Investor Relation Wintermar, Pek Swan Layanto mengatakan gejolak harga minyak menyebabkan perusahaan migas mengencangkan ikat pinggang dengan memotong belanja modal untuk eksplorasi.

Di samping itu, mereka juga melakukan negosiasi kontrak agar tarif sewa kapal diturunkan. “Ini berdampak pada utilisasi, penurunan pendapatan, dan kontraksi margin,” jelasnya.

Situasi yang tidak kondusif tersebut membuat WINS hanya merealisasikan belanja modal sebanyak US$13 juta dari US$50 juta yang disiapkan.

Adapun, tahun ini WINS hanya menyiapkan belanja modal US$6 juta dan telah mendapat fasilitas pinjaman modal kerja sebanyak US$10 juta. Secara umum, Wintermar memproyeksi tingkat penggunaan armada tahun ini akan meningkat kendati tarif sewa kapal lebih rendah.

Pek Swan menyebut, perseroan telah mendapat kontrak selama sewa tug boat selama lima tahun dari perusahaan migas yang melakukan eksplorasi di Kepulauan Natuna. Tahun lalu, total kontrak yang digenggam WINS mencapai US$190 juta.

Di lain pihak, HITS lebih optimis mengarungi bisnis tahun ini berkat perolehan kontrak-kontrak baru yang akan mendatangkan cukup signifikan tahun ini. Presiden Direktur HITS, Theo Lekatompessy, mengatakan perseroan iklim usaha jasa transportasi laut tahun ini akan mirip dengan tahun lalu.

Rivki Maulana – redaksi@bisnis.com

Source : Bisnis Indonesia – 11 April 2016