Prospek Bagus, Industri Galangan Ekspansi ke KTl

Potensi galangan kapal di wilayah timur sebenarnya besar, tapi jumlahnya terbatas dan belum dimanfaatkan secara optimal.

Batam saat ini sebagai pusat industri galangan kapal di Indonesia. Dari 198 industri galangan kapal nasional, 110 di antaranya berada di Batam yang mampu menyerap 120.000 tenaga kerja.

Berkembangnya industri galangan kapal di Batam, salah satu-nya karena adanya pembebasan tarif bea masuk komponen impor. Namun, untuk di luar Batam bea masuk untuk komponen impor kapal diberlakukan sebesar 10%.

Terkait hal itu, Direktur Utama PT PAL Indonesia Firmansyah Arifin mengakui, industri galangan kapal di Batam memiliki keuntungan tersendiri dibanding daerah lain. Salah satunya karena Batam masuk wilayah kawasan bebas perdagangan dan lokasinya strategis.

galangan 3

Untuk mengembangkan galangan nasional, pemerintah memberikan berbagai insentif. Di antaranya, keringanan bea masuk, kemudahan PPN, menyederhanakan proses prosedur PNBP dan fasilitas PPh lewat tax allowance. Belum diketahui pasti apakah insentif tersebut telah dirasakan manfaatnya oleh galangan nasional atau belum.

Produksi kapal baru saat ini hanya 3 unit per tahun untuk ukuran 50.000 DWT dan 2 unit dengan ukuran 20.000 DWT.

Namun, industri galangan masih harus mengimpor komponen, sehingga produknya belum kompetitif.

“Saat ini bahan dasar yang diproduksi dalam negeri baru plat baja. Di luar itu masih harus impor,” ujar Firmansyah.

Pemerhati industri maritim dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya, Raja Oloan Saut Gurning mengatakan, untuk menghindari ketergantungan impor komponen, industri komponen dalam negeri harus ditingkatkan kemampuannya. Sehingga mereka akan menunjang pembangunan kapal di galangan nasional.

Tentang rendahnya pertumbuhan bisnis galangan kapal, kata Saut Gurning, hal itu antara lain disebabkan ketergantungan industri galangan terhadap komponen yang masih harus diimpor. Mesin induk dan mesin cadangan masih impor, dengan kontribusi terbesar dari Jepang, Dengan mendatangkan barang impor, waktu yang diperlukan menjadi lama dan pengirimannya pun sering terlambat. Hal itu juga terjadi pada alat navigasi, komunikasi, dan keselamatan. Beberapa faktor itu memicu terhambatnya pembangunan kapal dan kinerja industri galangan kapal nasional.

Menurut Saut Gurning, potensi galangan sebenarnya cukup besar, tapi belum dapat dioptimalkan lantaran kinerjanya masih terbatas. Untuk pembangunan dan reparasi kapal, peralatan dukungan teknologi, dan pola bisnisnya masih minim.

Dampaknya, banyak pesanan kapal baru tapi waktu peluncurannya lebih lama dari kesepakatan kontrak. Di samping itu, harga kapal jadi lebih mahal. Hal ini akan menurunkan kepercayaan dari pemesan kapal.

Ekspansi ke KTI

Secara terpisah, Dirut PT Adiluhung Sarana Segara Indonesia (ASSI) Anita Puji Astuti menyatakan prospek galangan nasional cukup cerah. Baik untuk pembangunan kapal baru, maupun untuk perawatan atau perbaikan kapal.

Ini dibuktikan dengan adanya pesanan kapal baru, menyusul diresmikannya kapal pengangkut ternak KM Cemara-1 oleh Presiden Joko Widodo di Bangkalan, Madura, belum lama ini.

km camara2

“Insya Allah, pembangunan kapal ternak baru ini akan kami selesaikan pada 2017 mendatang,” tuturnya kepada Maritim tanpa menyebut pemesan kapal maupun harganya.

Selama ini, pihaknya telah membangun beberapa jenis kapal baru. Antara lain, kapal Ro-ro sampai ukuran 750 GT, kapal keruk, kapal pandu, kapal petikemas, kapal tunda, dan kapal pengangkut ternak.

Terkait pengembangan aktivitas pelayaran di wilayah timur, sejumlah galangan kapal akan melakukan ekspansi bisnis ke Kawasan Indonesia Timur (KTI). Dalam waktu dekat PT PAL Indonesia segera melebarkan sayap ke Ambon, Sorong dan Nusa Tenggara Timur (NTT).

Menurut Dirut PT PAL Firmansyah Arifin, potensi galangan kapal di KTI sangat besar, namun jumlah galangan di kawasan itu sangat terbatas. Bahkan sebagian besar berada di Kawasan Barat Indonesia (KBI).

Kapal-kapal yang berlayar ke KTI maupun kapal-kapal lokal bila memerlukan perawatan/perbaikan, harus dilakukan di KBI. Bila di KTI banyak galangan yang mampu melakukan perawatan/perbaikan kapal, kata dia, maka akan terjadi penghematan dari segi waktu, tenaga dan biaya yang sangat berarti.

Menurut dia, perkembangan galangan di luar negeri perlu diantisipasi, termasuk meningkatnya usaha perkapalan di Timur Leste. Tetapi untuk itu, pihaknya akan melakukan kajian lebih mendalam.

Untuk merealisasikan ekspansi tersebut, PT PAL akan menggandeng sejumlah BUMN, seperti Pertamina, Pusri dan PT ASDP Indonesia Ferry. Dalam rencana strategis membangun KTI, ke depan tentu dibutuhkan angkutan bahan-bahan pokok pembangunan, seperti BBM, semen dan pupuk. Kebutuhan SDM yang terlatih juga perlu untuk mengembangkan KTI,” ujar Firmansyah Arifin. (Erick A.M)

Source: Maritim (Pelopor Berita Kemaritiman) – No. 894 Tahun XVII – 01-07 Maret 2016