Produksi Minyak Sentuh 789.664 bph dan Gas 7.681 MMscfd

Bisnis.com, JAKARTA–Realisasi produksi minyak mentah menyentuh 789.664 barel per hari (bph) dan gas 7.681 juta kaki kubik per hari (million standard cubic feet per day/MMscfd).

Berdasarkan data dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Selasa (24/10/2017), status data produksi minyak pada Minggu (22/10/2017) ini semakin dekat dengan target yakni 815.000 bph.

Namun, bila dibandingkan dengan realisasi produksi Sabtu (21/10/2017), capaiannya tetap lebih rendah. Pada Sabtu (21/10/2017), realisasi produksi minyak melampaui 790.000 bph yakni 793.646 bph.

Berbeda dengan minyak, produksi gas justru naik dari realisasi produksi pada (21/10/2017) sebesar 7.589 MMscfd menjadi 7.681 MMscfd. Capaian ini melebihi target yang ditetapkan yakni 6.403,12 MMscfd.

Terdapat beberapa hal yang mempengaruhi capaian produksi lapangan-lapangan minyak dan gas di Tanah Air. Pertama, sejumlah kontraktor yang memang memiliki jadwal untuk menonaktifkan fasilitas produksinya (planned shut down) dan fasilitas produksi yang dinonaktifkan secara tiba-tiba (unplanned shut down).

Kontraktor yang melakukan planned shut down yakni Total E&P Indonesie di Blok Mahakam karena melakukan perawatan di Lapangan Handil. Dampaknya, produksi minyak atau kondensat turun 13.100 bph dan gas 15 MMscfd. Rencananya, perawatan akan berlangsung dari 21 Oktober sampai 25 Oktober.

Kontraktor lainnya yang juga melakukan planned shut down yakni Star Energy sehingga produksi turun 100 bph, Tiara Bumi 100 bph dan Kangean Energi Indonesia 20 MMscfd.

Untuk unplanned shut down dilakukan dua kontraktor yakni Star Energy karena adanya peringatan tingginya suhu pada kompresor gas yang mengakibatkan produksi turun 300 bph serta Camar produksinya turun 300 bph.

Adanya masalah operasional juga menjadi alasan rendahnya capaian produksi. Masalah operasional terjadi di Blok West Madura Offshore sehingga produksi turun 600 bph. Sementara itu, di Blok Corridor produksi gas turun 271 MMscfd karena turunnya permintaan dari Singapura dan jaringan pipa South Sumatra West Java (SSWJ). Alasan yang sama juga menjadi dasar turunnya produksi South Natuna Sea Block B sebesar 14 MMscfd karena rendahnya permintaan dari Singapura.

Terakhir, rendahnya produksi karena masalah keekonomian seperti yang terjadi pada Pertamina EP di Lapangan Udang A dan B akibat penundaan major overhaul padahal terdapat kerusakan pada plate coupler dan kebocoran pada forst stage inter cooler sehingga produksi turun 900 bph.

Source : bisnis.com