Produksi Lapangan Jangkrik Dongkrak Lifting Gas 2018

Produksi Lapangan Jangkrik Dongkrak Lifting Gas 2018Peningkatan lifting gas tahun depan disebabkan karena lapangan gas laut dalam Jangkrik yang dikelola Eni sudah beroperasi di pertengahan tahun ini. (ANTARA FOTO/M Agung Rajasa)

Jakarta, CNN Indonesia — Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan target produksi siap jual (lifting) gas bumi tahun depan di dalam Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2018 mengalami perbaikan dibanding tahun ini.

Rencananya, target lifting gas dipatok sebesar 1,19 juta setara barel minyak per hari (BOEPD) hingga 1,23 juta BOEPD dari angka tahun ini yang mencapai 1,15 juta BOEPD.

Menteri ESDM Ignasius Jonan menuturkan, peningkatan lifting gas tahun depan disebabkan karena lapangan gas laut dalam Jangkrik yang dikelola Eni sudah beroperasi di pertengahan tahun ini.

Meski saat ini produksinya baru 120 juta kaki kubik per hari (MMSCFD), produksi Jangkrik tahun depan bisa mencuat ke angka 450 MMSCFD atau setara 83 ribu BOEPD.

“Karena ada lapangan Jangkrik oleh Eni, maka asumsi lifting gas tahun depan kami ubah. Jadi lebih tinggi ke angka 1,23 juta BOEPD,” tutur Jonan di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Selasa malam (13/6).

Melengkapi ucapan Jonan, Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM I Gusti Nyoman Wiratmaja mengatakan bahwa lapangan Jangkrik pada tahun depan akan masuk ke dalam lima besar kontributor gas nasional.

Selain lapangan Jangkrik, blok-blok lain yang menyumbang produksi terbanyak adalah blok Mahakam, blok Tangguh, blok Corridor, dan aset-aset milik PT Pertamina EP.

“Jangkrik sangat signifikan, sehingga akan masuk sebagai satu dari penyumbang gas terbesar di tahun depan,” ujar Wiratmaja.

Meski ada harapan dari lifting gas, nasib tidak seimbang menerpa lifting minyak. Adapun di dalam RAPBN 2018, lifting minyak dipatok 771 ribu barel per hari hingga 815 ribu barel per hari. Angka ini terbilang stagnan dibandingkan target lifting APBN 2017 sebesar 815 ribu barel per hari.

Menurut Wiratmaja, produksi ini masih dihasilkan dari lima blok utama, yaitu blok Rokan, blok Cepu, aset milik Pertamina EP, blok Mahakam, dan blok Offshore North West Java (ONWJ). Angka ini menurun seiring kemampuan produksi blok-blok tersebut juga melemah.

Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) Amien Sunaryadi menuturkan, lifting minyak hingga saat ini saja tidak mendekati target APBN. Hingga 12 Juni 2017, realisasi lifting sudah mencapai 809 ribu barel per hari atau 99,26 persen dari target APBN.

Angka ini pun terbilang membaik setelah sebelumnya lifting minyak mencapai 788 ribu barel per hari pada bulan Mei silam.

“Produksi minyak sampai Juni ini sebenarnya mulai membaik,” ungkapnya singkat. (gir)