Pertamina Punya Cadangan Minyak 16 Miliar Barel di Irak

Jumat 16 Sep 2016, 18:42 WIB – Michael Agustinus

18Foto: Agung Pambudhy

Jakarta – PT Pertamina (Persero) semakin gencar menguasai cadangan-cadangan minyak di luar negeri. Ekspansi ini dilakukan karena cadangan minyak di dalam negeri sudah tinggal 3,6 miliar barel, sementara kebutuhan minyak masyarakat Indonesia sekarang sudah 300 juta barel per tahun dan terus meningkat.

Melalui anak usahanya yang diberi nama PT Pertamina Internasional Eksplorasi dan Produksi (PIEP), kini Pertamina sudah mengelola ladang migas di 3 negara, yakni Aljazair, Irak, dan Malaysia.

Berapa cadangan minyak di lapangan-lapangan yang dikelola Pertamina di luar negeri?

Presiden Direktur PIEP, Slamet Riadhy, mengungkapkan di Lapangan West Qurna I, Irak, ada cadangan minyak sebanyak 16 miliar barel alias lebih dari 4 kali lipat cadangan minyak seluruh Indonesia saat ini.

Itu baru cadangan di 1 lapangan saja, belum termasuk cadangan minyak di Lapangan MLN, Aljazair, yang dioperasikan langsung oleh PIEP.

“Cadangan kita di Irak ada 16 miliar barel. Cadangan kita di 1 negara saja kurang dr 4 miliar barel,” ujar Slamet dalam diskusi di Kantor Pusat Pertamina, Jakarta, Jumat (16/9/2016).

Slamet mengaku memang sengaja mencari aset di negara-negara seperti Irak dan Aljazair. Sebab, cadangan minyak di negara-negara Timur Tengah melimpah ruah. 1 lapangan saja bisa memiliki cadangan lebih besar ketimbang cadangan di seluruh Indonesia.

“Kenapa kita ambil di Irak? Cadangannya besar sekali, nomor 5 di dunia. Satu lapangan di sana bisa menyimpan 4-5 kali lipat cadangan di Indonesia. Aljazair juga jauh di atas kita,” tukas dia.

Selain itu, rata-rata biaya produksi minyak di Timur Tengah juga rendah. Meski harga minyak dunia anjlok ke kisaran US$ 40/barel, produksi minyak di sana masih tetap ekonomis.

“Biaya produksi minyak di Aljazair dan Irak masih di bawah (biaya produksi minyak) di Indonesia, jauh lebih murah. Harga minyak US$ 45/barel masih oke lah,” Slamet menerangkan.

Tetapi meski cadangannya besar, minyak di Irak dan Aljazair tak bisa jor-joran disedot. Pemerintahan di masing-masing negara menetapkan pembatasan produksi. Semua perusahaan migas yang beroperasi di negara mereka, termasuk PIEP, harus meminta persetujuan bila ingin menaikkan produksi minyak.

“Ada pembatasan produksi di Aljazair. Untuk tahun ini kita tetap diizinkan meningkatkan produksi dari 15.000 barel per hari (bph) ke 18.000 bph. Tahun depan ditingkatkan lagi menjadi 24.000 bph,” ungkapnya.

Hingga Agustus 2016 ini sudah 7,89 juta barel minyak dari luar negeri yang dibawa ke Indonesia. Ditargetkan sampai akhir tahun ini 16 juta barel minyak dapat dibawa pulang. Ini mengurangi impor minyak Indonesia secara langsung, devisa negara bisa dihemat.

“Sampai Agustus 7,89 juta barel minyak dibawa ke Indonesia. Tahun lalu 14 juta barel, tahun ini bisa 16 juta barel,” ucap Slamet.

PIEP membidik produksi minyak dan gas bumi hingga 650.000 barel oil equivalent per day (boepd) di 2025 dan 700.000 boepd di 2030, naik 5 kali lipat dibanding sekarang. Maka Pertamina akan semakin agresif mencaplok ladang-ladang migas di luar negeri demi ketahanan energi nasional.

“Kita menargetkan produksi 600-650 ribu boepd di 2025 dan 700.000 boepd di 2030 untuk mendukung ketahanan dan kemandirian energi nasional. Tahun 2030 kebutuhan minyak kita 2 juta bph, produksi dari dalam negeri paling 600 ribu bph, maka kita harus semakin banyak mengambil aset di luar negeri untuk mengamankan pasokan,” tutupnya. (wdl/wdl)

Source : detik.com