Persediaan Ternyata Turun, Harga Minyak Kembali Menguat

Persediaan Ternyata Turun, Harga Minyak Kembali MenguatEnergy Information Administration (EIA) Amerika Serikat (AS) melaporkan bahwa persediaan minyak negara tersebut turun 1,8 juta barel pada pekan lalu, lebih kecil dari perkiraan sebesar 2,4 juta barel. (ANTARA FOTO/Rosa Panggabean)

Jakarta, CNN Indonesia — Harga minyak ditutup menguat pada hari Kamis waktu Amerika Serikat (AS) setelah persediaan minyak menurun dalam enam pekan berturut-turut. Ini dianggap sebagai sinyal positif jelang pertemuan anggota organisasi negara-negara pengekspor minyak (Organization of the Petroleum Exporting Countries/OPEC) pekan depan yang membicarakan perpanjangan pembatasan produksi.

Dikutip dari Reuters, Energy Information Administration (EIA) AS melaporkan bahwa persediaan minyak negara Paman Sam itu turun 1,8 juta barel pada pekan lalu, lebih kecil dari perkiraan sebesar 2,4 juta barel. Adapun persediaan bensin dan produk distilasi juga menurun.

Meski demikian, produksi minyak AS telah menanjak 10 persen sejak pertengahan 2016 ke angka 9,3 juta barel per hari. Angka ini telah mendekati raihan produsen minyak jumbo seperti Rusia dan Arab Saudi. EIA sendiri memperkirakan produksi minyak AS akan menyentuh 10 juta barel per hari pada akhir tahun 2018 mendatang.

Di samping itu, pembicaraan mengenai ancaman pemakzulan Presiden Donald Trump membebani nilai tukar Dollar AS. Namun, kondisi tersebut bisa membantu penjualan minyak dengan denominasi Dollar AS karena lebih murah dibanding negara lainnya.

Hasilnya, harga Brent menguat US$0,56 ke posisi US$52,21 per barel. Sementara itu, harga West Texas Intermediate (WTI) ditutup meningkat US$0,41 per barel ke angka US$49,07 per barel. Penutupan ini merupakan yang terkuat sejak 28 April silam.

Sebagai informasi, OPEC dan beberapa produsen minyak utama lainnya akan bertemu di Wina, Austria pada pekan depan untuk memastikan perpanjangan pembatasan produksi. Sebelumnya, organisasi kartel minyak itu sepakat untuk mengurangi produksi 1,8 juta barel per hari sepanjang semester pertama 2017. (agi/agi)

Source : cnnindonesia.com