PERSEDIAAN AS TERKOREKSI: Minyak ke Level Tertinggi

f62ba15e-c049-48e7-b105-4b3122affc15_169

JAKARTA—Harga minyak mentah melanjutkan reli dan mencapai level tertinggi baru sepanjang tahun berjalan seiring dengan merosotnya persediaan Amerika Serikat.

Meskipun demikian, pada pagi hari harga sempat tergelincir akibat investor yang melakukan aksi profit taking dan naiknya kembalinya produksi Kanada setelah terkendala bencana kebakaran pekan lalu.

Pada perdagangan Kamis (11/5) pukul 16:18 WIB harga minyak WTI kontrak Juni 2016 meningkat 0,80% atau 0,37 poin menuju US$46,60 per barel. Artinya, sepanjang tahun berjalan harga sudah meningkat 14,9%.

Sementara harga minyak Brent kontrak Juli 2016 naik 0,59% atau 0,28 poin menjadi US$47,87 per barel. Sepanjang tahun berjalan harga bertumbuh 16,798%. Kedua patokan harga ini pun menyentuh level tertinggi baru di periode tahun Monyet Api.

Data U.S. Energy Information Administration (EIA) pada Rabu (11/5) menuliskan, persediaan minyak mentah mingguan AS per Rabu (6/5) merosot 3,4 juta barel menuju ke 539,984 juta barel. Fakta ini cukup mencengangkan karena sejumlah analis memprediksi sebaliknya.

Survei Bloomberg memperkirakan pasokan minyak mentah mingguan AS bertambah 750.000 barel, sedangkan survei Reuters memprediksi peningkatan 500.000 barel. Sementara American Petroleum Institute’s (API) juga memerkirakan stok bakal bertambah 3,5 juta barel.

Sebelumnya, stok mencapai 534 juta barel yang menjadi rekor level tertinggi sejak 1929. Artinya, bila pasokan bertambah, maka kondisi pasar saat ini yang sedang kebanjiran suplai bakal menekan harga.

EIA menyampaikan, sejalan dengan menurunnya stok, produksi minyak mentah AS juga turun menjadi 8,802 juta barel per hari pada Rabu (6/5), terendah sejak September 2014. Dalam waktu yang sama, konsumsi bensin domestik naik 5,6% secara tahunan (y-o-y) menuju ke 9,4 juta barel per hari.

Lu Wang, Bloomberg Intelligence Analyst, menyampaikan EIA memprediksi surplus pasokan minyak mentah sepanjang 2016 dapat ditekan menjadi sebesar 980.000 per barel dan tahun berikutnya sejumlah 20.000 barel per hari.

Angka tersebut menurun secara signifikan dari perkiraan pada Maret yang menyebutkan tingkat surplus suplai minyak mentah di 2016 mencapai 1,4 juta barel per hari dan 2017 sebanyak 410.000 barel per hari.

Berkurangnya kelebihan pasokan terutama ditopang merosotnya produksi minyak mentah AS dan prospek membaiknya permintaan yang ditunjukkan melalui membaiknya data ekonomi. Misalnya konsumsi China yang diprediksi bakal meningkat 400.000 barel dalam periode 2016-2017 akibat tingginya kebutuhan bensin, gas cair hidrokarbon, dan avtur.

“Sementara meningkatnya persediaan minyak mentah akan memberikan tekanan terhadap kenaikan harga,” tutur Lu.

Secara keseluruhan, EIA memproyeksikan rerata harga minyak Brent untuk 2016 ialah US$41 per barel dan 2017 senilai US$51 per barel. Masing-masing angka meningkat US$6 dan US$10 per barel dari prediksi sebelumnya.

Tariq Zahir, Managing Partner Tyche Capital Advisors, menuturkan meskipun mendapat sentimen positif dari menurunnya persediaan Paman Sam, minyak mentah sempat terkoreksi. Dua faktor yang menekan harga yakni pemulihan produksi Kanada dan aksi investor yang melakukan profit taking setelah harga yang naik hingga US$2,95 per barel pada Rabu (11/5).

Pekan lalu, kebakaran hutan yang melanda Kanada merembet kepada terganggunya aktivitas penyedotan minyak mentah yang terkoreksi hingga 1 juta barel per hari. Namun, kondisi lapangan kian membaik, sehingga level produksi dapat segera kembali ke tingkat normal.

Rapat OPEC

Sementara itu, negara-negara produsen minyak mentah yang tergabung dalam Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) berencana mengadakan pertemuan pada 2 Juni 2016 di Wina, Austria. Namun, agenda tersebut lebih berfokus pada dialog antar anggota, dibandingkan melakukan intervensi terhadap pasar.

Menteri Perminyakan Kuwait Anas Al-Saleh mengatakan, pertemuan nanti akan berfokus untuk mencari solusi dan mengamati kondisi pasar. Selanjutnya, dialog antar anggota OPEC diharapkan dapat menentukan langkah organisasi selanjutnya ke depan.

“Kami akan fokus pada kondisi pasar saat ini dan apa yang bisa dilakukan untuk menstabilkannya,” ujarnya.

Rapat OPEC sebelumnya di Doha, Qatar, pada Minggu (17/4) gagal mendapatkan solusi, setelah  Arab Saudi bersikeras tidak akan menahan produksi jika produsen utama lainnya, termasuk Iran, tidak mengikuti kesepakatan.

Hal ini juga mengangkat kekhawatiran produsen di Timur Tengah bakal menggenjot suplai di tengah upaya negara lainnya menstabilkan pasar. Bahkan, sejumlah pihak menganggap OPEC melakukan praktek kartel.

Al-Saleh menampik anggapan tersebut. Menurutnya, kenaikan harga minyak mentah baru-baru ini dari posisi terendah 12 tahun terakhir pada Januari menuju ke US$47,50 per barel merupakan ekses berkurangnya produksi dan pasokan.

“Saya menganggap membaiknya harga berdasarkan pada faktor fundamental penurunan produksi dalam tiga minggu terakhir,” tuturnya.

Sejumlah analis berpendapat saat ini OPEC dan Rusia masih menggenjot penyedotan untuk menjaring dan menjaga pangsa pasarnya masing-masing. Sementara pasokan di wilayah lain seperti Amerika, Asia, dan Afrika telah menurun tajam, sehingga surplus suplai tidak sebesar tahun lalu yang mencapai 2 juta barel per hari.

Editor : Bunga Citra Arum – Nursyifani

Source : bisnis.com