PEROMBAKAN PIMPINAN PERTAMINA – Kilang-kilang yang Terabaikan

Duwi Setiya Ariyanti — Senin, 06/02/2017 08:27 WIB

28Kilang Balikpapan.

Kebutuhan BBM di Tanah Air saat ini mencapai 1,6 juta barel per hari (bph). Na mun, kapasitas kilang minyak di dalam negeri hanya 850.000—900.000 bph. Artinya, sekitar 43% BBM ma sih harus diimpor untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Seandainya proyek dua kilang baru (Kilang Bontang dan Kilang Tuban) masing-masing berkapasitas 600.000 bph dan revitalisasi untuk meningkatkan kapasitas empat kilang eksis maka total kapasitas kilang nasional pada 2023 diproyeksikan naik menjadi 2 juta bph. Jika kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) Indonesia pada 2023 sekitar 2 juta bph maka tidak perlu lagi ada impor.

Di sisi lain, dengan kapasitas kilang 2 juta bph, Indonesia masih membutuhkan impor minyak mentah. Namun, setidaknya RI tidak perlu lagi impor BBM seperti yang terjadi saat ini.

29

PENTINGNYA KILANG

Soal kilang ini, Dwi Soetjipto yang baru saja diberhentikan secara hormat dari posisi Dirut PT Pertamina (Persero), sering sekali menekankan pentingnya proyek kilang minyak. “25 Tahun lebih Pertamina enggak bangun kilang,” ujar Dwi Soetjipto sewaktu menjadi pembicara di salah satu diskusi, November 2016.

Paling tidak, itulah yang berkali-kali ditekankan Dwi Soetjipto dalam beberapa kesempatan. Aksi perseroan di sektor pengolahan akan menjadi salah satu cara yang harus dilakukan untuk menekan impor BBM.

Niat Pertamina untuk membangun kilang pun sudah mulai nampak. Selain itu, perseroan mampu melakukan efi siensi US$1,643 miliar (hingga kuartal III/2016).

Sementara itu, pembubaran Petral telah mencatatkan efisiensi perseroan sebesar US$103 juta melalui upaya memperkuat Integrated Supply Chain (ISC). Kemampuan negara untuk memenuhi kebutuhan BBM dalam negeri pun kerap dibandingkan dengan tetangga sebelah yakni Singapura yang saat ini memiliki kapasitas kilang sebesar 1,5 juta barel per hari (bph) saat kebutuhannya hanya sekitar 150.000 bph.

Bahkan, Singapura bisa menyuplai BBM ke negara lain. Padahal, berbisnis di sektor hilir tanpa memiliki kekuatan di sektor pengolahan sebenarnya kurang menjanjikan karena harus bergantung pasokan BBM impor. Sebut saja, kilang-kilang lama yang beroperasi seperti Kilang Plaju, Kilang Balikpapan, Kilang Cilacap, Kilang Balongan dan Kilang Kasim.

Kilang Balikpapan dan Kilang Plaju merupakan kilang yang berdiri sejak era kolonial Belanda, sedangkan Kilang Cilacap dibangun pada 1988. Kilang Balongan dibangun pada 1994 dan Kilang Kasim dibangun tahun 1995 dengan kapasitas sekitar 900.000 bph.

Terbukti, enam proyek kilang berjalan sekaligus kendati diwarnai beberapa kejadian seperti mundurnya JX Nippon dalam proyek penambahan kapasitas Kilang Balikpapan dan Saudi Aramco dalam proyek Kilang Dumai—Balongan. Alhasil, ketiga proyek tersebut harus dibangun sendiri oleh perseroan.

Untuk menyelesaikan enam proyek di sektor pengolahan yang kesemuanya ditarget rampung sebelum 2025, perseroan harus mengeluarkan sekitar US$20 miliar pada proyek kilang saja.

Namun, investasi itu mungkin akan imbang dengan dampaknya menekan impor produk BBM dan me nekan penggunaan BBM bersubsidi. Sebagai gambaran, pada kuartal III/2016 laba bersih Pertamina mencapai US$2,83 miliar atau naik 209% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Namun, keseriusan membangun kilang tak diikuti dengan komitmen merawat kilang eksis yang tergolong tua. Pada Januari, Kilang Balongan tak bisa beroperasi karena harus dilakukan perawatan.

Berturut-turut akan dilakukan perawatan Kilang Balikpapan, Kilang Cilacap, Kilang Dumai dan Kilang Kasim secara bergantian.

Pertamina mengakui jadwal perawatan Kilang Balikpapan tak berjalan sesuai rencana. Dari target tahun lalu, pihaknya baru menjadwalkan perawatan Kilang Balikpapan pada April 2017.

Mungkin hanya margin pengolahan saja yang hilang akibat tidak beroperasinya sejumlah kilang. Namun, tetap saja, perawatan kilang harus diikuti jadwal perawatannya agar kilang lain bisa saling menutup pasokan yang hilang akibat tak beroperasinya kilang. Hal yang juga menjadi perhatian yakni terkait akuisisi aset hulu.

Dalam beberapa kesempatan, Dwi Soetjipto pernah mengatakan bahwa kekuatan Pertamina di sektor pengolahan memberikan kredit dalam setiap lelang aset hulu di luar negeri.

Hal itu terjadi untuk penawaran aset hulu di Iran. Dengan sejumlah target ambisius tersebut, pengamat Energi Pri Agung Rakhmanto mengatakan target-target tersebut dibuat bukan sekadar atas pertimbangan personal pemimpinnya, tetapi merupakan target korporasi.

Mungkin semua boleh berharap bahwa di bawah pemimpin baru pengganti Dwi Soetjipto yang baru menjabat selama dua tahun itu bisa mengambil tongkat estafet untuk mencapai target yang ditetapkan dari hulu sampai hilir.

Yang terpenting sosok baru nantinya bisa melepas kesan bahwa perusahaan pelat merah kerap kental dengan unsur permainan ala birokrat yang membawa suasana kurang profesional.

Editor : Gita Arwana Cakti

Source : bisnis.com