PENGEMBANGAN BLOK KASURI – Genting Oil Diminta Cari Mitra

JAKARTA – SKK Migas meminta perusahaan minyak dan gas asal Malaysia Genting Oil Kasuri Pte, Ltd. yang menggarap Bok Kasuri di Papua Barat untuk mencari mitra bisnis guna membangun  industri petrokimia di wilayah tersebut.

Kepala Satuan Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Amien Sunaryadi mengatakan, sebelumnya pihaknya mendapat investor yangberminat membangun  industri petrokimia di sekitar Kilang Tangguh yang dioperasikan BP Tangguh. Namun, lokasi yang berdekatan dengan wilayah kerja Kasuri akan memberikan dampak positif lebih banyak bila dibangun secara terintegrasi.

SKK Migas memutuskan agar Genting Oil mencarikan mitra sendiri. Pasalnya, Genting memiliki pengalaman dalam proyek lain seperti pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) di Banten berkapasitas 1 x 660 megawatt.

Amien telah bertemu dengan calon investor yang ingin membangun pabrik petrokimia di wilayah Tangguh. Investasi tersebut, katanya, menawarkan harga gas yang kurang sesuai. Sementara itu, calon investor lain yaitu PT Ferrostaal Indonesia yang pernah terlibat  dalam beberapa proyek  migas seperti di Bontang dan Cepu menawarkan harga gas US$3 per MMBtu.

Amien berharap agar investor yang akan bergabung bisa menguntungkan masing-masing pihak. Mitra dari Malaysia atau China tidak akan menjadi kendala selama ikut berkontribusi terhadap pembangunan daerah sekitar.

“Dia (Genting Oil) masih cari (mitra  bisnis). Daripada kami yang nyari, kami suruh dia aja yang nyari,” ujarnya usai rapat kerja, dengan Komisi VII DPR, Selasa (12/4).

Genting Oil ingin menjual sebagian sahamnya untuk menjadi mitra guna bersama-sama mengembangkan Blok Kasuri.

Pembangunan kawasan industri berbasis gas, katanya, akan terhubung  dengan proyek Tangguh Train III. Lokasi Blok Tangguh dan Kasuri berdekatan. Bahkan, lokasi Kilang Tangguh telah masuk ke Lapangan Kasuri.

Menurutnya, Kilang Tangguh Train III memiliki cadangan gas 180 MMscfd. Cadangan tersebut, katanya, tak memungkinkan bila dimanfaatkan untuk kebutuhan petrokimia karena alokasiya lebih berpeluang untuk pabrik pupuk.

Sementara itu, wilayah Lapangan Genting lebih cocok untuk kawasan industry. Oleh karena itu, pembangunan kawasan industri secara terintegrasi bisa menjadi solusi bagi Genting Oil. (Duwi Setiya Ariyanti).

Source : Bisnis Indonesia – 15 April 2016