PENGELOLAAN BLOK MASELA – Inpex Belum Respons Minat Pertamina

Linda Teti Silitonga – Rabu, 13/07/2016 09:51 WIB

130517_blok migas

JAKARTA — Inpex Corporation masih fokus merevisi proposal rencana pengembangan Lapangan Abadi, Blok Masela, sehingga belum dapat merespons permintaan PT Pertamina (Persero) untuk bergabung dalam pengembangan blok gas tersebut

Rencana pengembangan (plan of development/PoD) direvisi, karena sebelumnya menggunakan skema kilang laut. Sementara itu, pemerintah memutuskan agar Inpex membangun kilang gas alam cair di darat.

Direktur Hulu Pertamina Syamsu Alam mengatakan, pihaknya telah mendapat respons dari Inpex terkait surat yang dikirimkan Pertamina terhadap ketertarikan untuk membeli saham partisipasi di Blok Masela.

Pertamina mengirimkan surat ketertarikan untuk kepemilikan saham atau farm in di Masela kepada Inpex pada 15 Juni 2016. Namun, Inpex belum bersedia mem bicarakan tentang peluang masuk nya perusahaan pelat merah sektor migas itu ke dalam blok migas yang terletak di Laut Arafuru, Maluku.

Inpex masih fokus pada revisi PoD pascaperubahan skema pengembangan dari kilang terapung gas alam cair (floating liquefied natural gas/FLNG) menjadi kilang darat (onshore liquefied natu ral gas/OLNG).

Hingga saat ini, Inpex masih berkomunikasi dengan pemerintah untuk menyusun PoD yang baru berikut dengan jadwal pengerjaan proyek yang baru dan cara agar proyek berjalan sesuai skala keekonomian.

“Mereka (Inpex) belum bisa mendiskusikan hal itu karena mereka ada perubahan offshore ke onshore. Mereka masih fokus ke situ dulu,” ujarnya usai menghadiri acara halal bihalal Pertamina, Selasa (12/7/2016).

Pertamina telah menyatakan ketertarikannya untuk turut terlibat dalam pengelolaan Blok Masela sejak 2011. Namun, hal tersebut tidak mendapat respons dari Inpex sebagai operator dan pemilik saham mayoritas. Saat itu, Inpex tidak menginginkan adanya penjualan saham (share down). Pada Blok Masela, Inpex menguasai saham partisipasi 65% dan Shell 35%.

Melalui surat kali ini, pihaknya menegaskan agar Pertamina bisa menguasai saham partisipasi paling tidak 20% terlepas dari kewajiban operator menawarkan saham partisipasi 10% kepada pemerintah daerah.

Dengan respons Inpex, katanya, pihaknya harus menanti hingga PoD atas skema pengembangan yang baru telah selesai. Pasalnya, dengan perubahan skema pengembangan, Inpex perlu memastikan proyek bisa berjalan secepatnya.

“Belum. Kalau mereka (Inpex) punya waktu,” katanya.

Meski menginginkan untuk menguasai saham partisipasi minimal 20%, pihaknya belum mau menyebut berapa dana yang harus disiapkan untuk bisa membeli saham tersebut.

Menurutnya, saat ini belum waktunya menyebut nilai yang dibutuhkan untuk memiliki saham partisipasi di Blok Masela.

“Kita ngomong enggak kira-kira, nanti ada  pastinya.”

KEEKONOMIAN PROYEK

Dihubungi terpisah, Senior Communications and Relations Manager Inpex Corporation UsmanSlamet mengonfirmasi bahwa pihak nya telah merespons surat yang dikirim Pertamina. Sejak peng ubahan skema pengembangan, tutur Usman, Inpex masih mengupayakan agar proyek layak dari segi teknis, ekonomi begitu
pula aspek lingkungan.

Inpex, katanya, belum dapat membicarakan hal tersebut karena pihaknya masih menghitung ulang keekonomian proyek dan mengembalikan kepercayaan investor.

Pengajuan revisi PoD 1 telah dilakukan Inpex Corporation dan Shell Indonesia sejak September 2015. Inpex sendiri telah mengajukan
PoD dengan cadangan gas terbukti sebesar 6,05 triliun kaki kubik (Tcf) dan kapasitas FLNG 2,5 juta ton per tahun selama 30 tahun. Sementara itu, produksi gas hanya 400 MMscfd, dan kondensat 8.100 barel per hari (bph).

Kemudian Inpex merevisi proposal, karena terdapat kemungkinan cadangan yang lebih yaitu sebesar 10,73 Tcf. Hal itu menyebabkan kapasitas FLNG meningkat menjadi 7,4 juta ton per tahun selama 24 tahun.

Produksi gas juga naik menjadi 1.200 MMscfd dan kondensat 24.460 bph. Namun, proposal tersebut ditolak dan ditetapkan agar dilakukan pembangunan kilang darat.

Editor : Linda Teti Silitonga

Source : bisnis.com