Pengadaan Gas Alam Cair : Lelang LNG untuk 32 Pembangkit Mundur

JAKARTA – Lelang pengadaan 230 MMscfd gas alam cair untuk memasok 32 lokasi pembangkit listrik berbasis gas milik PT Prusahaan Listrik Negara (Persero) diundur.

PLN akan merevisi jadwal pemasukan dokumen penawaran dari peserta lelang pasokan gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) dari semula April diundur menjadi Oktobber tahun ini.

Revisi jadwal tersebut menyebabkan pengumuman pemenang serta realisasi pasoka LNG mundur.

Kepala Divisi Gas Dan Bahan Bakar Minyak PLN Chairani Rachmatullah menjelaskan perseroan akan memberikan waktu lebih lama kepada peserta lelang yang telah lolos tahap prakualifikasi untuk menyusun dokumen penawaran lelang. Hal ini  dilakukan setelah menerima masukan dari beberapa peserta dan peninjuan kembali dokumen lelang oleh panitia.

“Setelah kami lakukan on on one meeting, ternyata pada tidak siap kalau Mei karena kan lokasinya banyak. Setelah persetujuan direksi, maka dimundurkan hingga Oktober,”katanya, Selasa (29/3).

Menurutnya, revisi jadwal penawaran ini dilakukan setelah melalui beberapa pertimbangan seperti banyak lokasi yang akan disalurkan gas membuat peserta sulit menyusun penawaran.

Selain itu, pembebasan lahan lokasi yang akan dibangun infrastruktur LNG tersebut juga masih terkendala, sehingga memerlukan waktu yang lebih lama.

“Dari sisi kami juga 100% belum selesai. Dari 21 lokasi itu ternyata PLN juga belum clear pembebasan  tanahnya.”

Chairani mengakui, penundaan proses lelang itu berdampak pada molornya realisasi proyek pembangkit gas. Namun, PLN menargetkan penandatangan kontrak lelang dapat dilakukan dalam tahun ini. Dengan demikian, dengan waktu konstruksi 2 tahun, maka proyek infrastruktur serta pasokan gas alam cair dapat rampung pada akhir 2018.

Dia menambahkan, pihaknya hanya merevisi jadwal pemasukan dokumen penawaran, selebihnya terkait dengan isi dari kontrak tetap berlaku seperti yang tertera di awal.

Pasokan gas itu dibutuhkan oleh pembangkit listrik tenaga gas (PLTG) yang akan beroperasi pada 2017—2018.

JASA TRANSPORTASI

Selain lelang pasokan gas, PLN juga melelang jasa untuk transportasi serta pembangunan infrastruktur. Infrastruktur transportasi akan dibangun dengan skema pengerjaan proyek pemerintah oleh swasta atau build operate transfer (BOT) yang artinya setelah dibangun oleh pihak swasta akan diserahkan ke PLN setelah beberapa tahun.

Dia menjelaskan, meskipun pembangkit berbahan bakar gas sudah selesai dibangun pas atahun 2017, tetapi infrastruktur gas baru  siap pada 2018.

Namun, PLN belum dapat memastikan apakah dari sebelas peserta yang lolos akan diambil satu pemenang atau lebih untuk memasok gas alam cair.

Sudah  ada  enam  konsorsium dan lima perusahaan yang sudah lolos tahap prakualifikasi. Sebelumnya, PLN mengatakan untuk Ielang ini terdapat sekitar 100  perusahaan yang  mendaftar  pada tahap prakualifikasi.

Sementara itu, PT Perusahaan Gas Negara mengklaim mempersiapkan fasilitas penyimpanan dan regasifikasi gas terapung atau Floating Storage and Regasification Unit (FSRU) Lampung untuk mendukung sektor kelistrikan.

“FSRU Lampung siap untuk mendukung proyek listrik 35.000 MW yang digagas Presiden Joko Widodo, utamanya yang berada di Jawa bagian barat dan Sumatra bagian selatan,” ujar Sekretaris Perusahaan PGN Heri Yusup.

Dari total proyek pembangkit listrik berkapasitas 35.000 MW, 13.432 MW di antaranya pembangkit listik berbasis gas. Total gas yang diperlukan sekitar 1.009 MMscfd.

FSRU Lampung berperan sebagai terminal penerima LNG dan memiliki fasilitas regasifikasi (mengubah LNG ke gas alam). FSRU Lampung memiliki kapasitas penampung LNG 170.000 m3 dan kemampuan regasifikasi 240 MMscfd.

Pada tahun ini, FSRU Lampung akan menyalurkan 1,1 juta meter kubik LNG yang berasal dari Kilang LNG Tangguh Papua, dan diterima secara bertahap, mulai April hingga akhir tahun ini.

Annisa L. Ciptaningtyas

Bisnis.com

Source : Bisnis Indonesia – 30 Maret 2016