Pasokan Gas: PLN Dan Kontraktor Blok Simenggaris Belum Sepakat

Duwi Setiya Ariyanti Selasa, 13/09/2016 22:20 WIB

8Pipa Gas

Bisnis.com, JAKARTA – PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) belum bersepakat untuk melakukan transaksi jual beli gas dari Blok Simenggaris yang dioperatori Joint Operation Body PT Pertamina Hulu Energi dan Medco E&P Simenggaris.

Kepala Divisi Bahan Bakar Minyak dan Gas PT PLN (Persero) Chairani Rahmatullah mengatakan pihaknya belum melakukan penawaran terhadap pasokan gas dari Blok Simenggaris. Dia menyebut telah menyatakan minat kepada PT PHE untuk menyerap 25 juta kaki kubik per hari (million metric standard cubic feet per day/MMscfd).

Berdasarkan catatan Bisnis.com, alokasi gas dari Lapangan South Sembakung itu akan dialokasikan ke PLN sejak 2013. Blok yang terdapat di Kalimantan Utara itu ditarget memproduksikan gas sebesar 30 MMscfd dengan 25 MMscfd di antaranya masih belum terserap. Dia menyebut telah ditawari gas dari Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) sebesar 5 MMscfd namun harga di tingkat midstream dianggap terlalu mahal.

Pada 2013, katanya, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) telah menyatakan alokasi 25 MMscfd untuk PLN dengan harga sekitar US$5,2 per MMBtu (million metric British thermal unit/MMBtu) di tingkat hulu.

Sementara itu, pada tingkat midstream, harga yang ditawarkan justru sekitar US$13 per MMBtu dalam bentuk gas alam cair (liquefied natural gas/LNG). Saat ini, katanya, SKK Migas dan JOB PHE-Medco masih melakukan kajian agar gas tersebut diserap PLN.

“Berkaca dari 5 MMscfd aja untuk resminya mahal sehingga 20 MMscfd masih diproses. Asalkan, cocok dengan keekonomian,” ujarnya saat dihubungi Bisnis.com, Selasa (13/9/2016).

Chairani menuturkan gas tersebut akan dibawa ke daerah Kalimantan Utara yakni Tarakan, Tanjung Selor, dan Nunukan. Dengan demikian, tak memungkinkan bila diangkut menggunakan pipa. Dua hal kunci seperti harga di midstream juga kesiapan pasokan menjadi jaminan proyek pembangunan pembangkit berjalan lancar.

Untuk pasokan dalam negeri, dia menyebut perlu memastikan pasokan gasnya bisa bertahan dalam kurun waktu 20 tahun. Syarat tersebut, katanya, guna menjamin kebutuhan gas bagi proyek pembangkit yang akan dilakukan oleh independent power producer (IPP). Pasalnya, agar proses pengadaan berjalan sesuai rencana, PLN harus bisa menjamin pasokan gas bagi proyek yang akan dijalankan IPP.

Dengan demikian, pihaknya masih melakukan komunikasi dengan JOB PHE-MEdco Simenggaris guna mendapat harga terbaik. “Harus diolah tata waktunya, harga midstream agar ketemu keekonomiannya,” katanya.

Direktur Utama PT PHE Gunung Sardjono Hadi mengatakan di tingkat hulu pihaknya akan mengintegrasikan operasi blok yang lokasinya berdekatan menjadi satu klaster. Gunung mengharapkan cara ini bisa menambah produksi dan menjamin pasokan gas kepada pengguna akhir dengan masa yang lebih panjang.

Untuk wilayah Kalimantan Utara, dia menyebut akan mengintegrasikan produksi Blok Simenggaris dan Blok Nunukan. Pihaknya memperkirakan total gas yang diproduksi sebesar 90 MMscfd selama 26 tahun.

Begitu pula dengan blok lainnya seperti di Jawa Utara yang akan mengintegrasikan operasi dari Blok Offshore North West Java (ONWJ), Blok Abar, Blok Anggursi dan Blok Offshore South East Sumatera (OSES); di Sumatera Tengah melalui integrasi Blok Kampar dengan Lirik dan Blok Jambi Merang dengan Blok Coastal Plain dan Pekanbaru (CPP)

“Kami punya potensi 90 MMscfd selama 26 tahun untuk mempercepat monetisasi sehingga Kaltara bisa berkembang.”

Di sisi lain, terkait kesepakatan harga gas dengan PLN, pihaknya akan menawarkan beberapa skema seperti bekerja sama dengan penyedia jasa pengolahan gas agar harga di tingkat pengguna akhir bisa ditekan. Diharapkan agar tak saja PLN yang bisa menyerap gasnya melainkan industri seperti pupuk.

“Kami akan menjajaki bersama PLN. Akan bangun mini LNG dengan menggandeng partner,” katanya.

Editor : Fatkhul Maskur

Source : bisnis.com