Pasokan AS Turun Dongkrak Harga Minyak Dunia

Pasokan AS Turun Dongkrak Harga Minyak DuniaHarga minyak dunia mencapai titik tertingginya dalam dua tahun terakhir pada perdagangan Rabu (22/11), dipicu oleh merosotnya pasokan minyak mentah AS. (ANTARA FOTO/Idhad Zakaria).

Jakarta, CNN Indonesia — Harga minyak dunia mencapai titik tertingginya dalam dua tahun terakhir pada perdagangan Rabu (22/11) waktu Amerika Serikat (AS). Hal ini dipicu oleh merosotnya pasokan minyak mentah di AS pasca penutupan salah satu pipa minyak terbesar dari Kanada ke AS, Keystone.

Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) tercatat naik US$1,19 persen atau 2 persen menjadi US$58,02 per barel, tertinggi sejak Juli 2015. Harga minyak tersebut bahkan sempat menyentuh US$59,09 per barel pada sesi awal perdagangan setelah Badan Administrasi Energi AS melaporkan persediaan minyak AS turun 1,6 juta barel pekan lalu.

Kenaikan harga juga terjadi pada harga minyak mentah Brent yang mencapai US$63,32 per barel, naik US$0,75 atau 1,2 persen dari penutupan perdagangan sebelumnya.

Dikutip dari Reuters pada Kamis (23/11), Keystone ditutup pekan lalu akibat kebocoran. Untuk memulihkan pasokan 590 ribu barel per hari dari pipa tersebut diperkirakan membutuhkan beberapa minggu. Operator pipa TransCanada telah memberitahukan kliennya bahwa penutupan itu akan mengurangi minyak yang dialirkan dari ladang minyak Alberta, Kanada, ke kilang-kilang di AS hingga 85 persen selama akhir November.

Selain karena sentimen berkurangnya pasokan dari pipa Keystone, kenaikan harga minyak WTI juga terjadi pasca dirilisnya laporan teranyar American Petroleum Institute (API) soal persedian minyak AS, Selasa (21/11) lalu. Dalam laporan tersebut, persediaan minyak mentah AS merosot 6,4 juta barel AS, lebih besar dari catatan Badan Administrasi Energi AS.

“Tingkat harga saat ini masih menggoda perusahaan AS untuk memproduksi (minyak) lebih banyak, yang akan menjadi perhatian OPEC sebelum pertemuan kartel tersebut pada November,” ujar Analis Energi Senior Interfax Energy’s Global Gas Analytics Abhisek Kumar di London.

Perusahan energi AS pekan ini akan menambah rig minyak, dengan jumlah rig meningkat untuk pertama kalinya sejak Juli. Baker Hughes, anak usaha General Electric, menyatakan pengebor menambah sembilan rig minyak minggu ini, sehingga total rig menjadi 747.

Kumar juga menambahkan, lebarnya premi harga Brent terhadap WTI juga akan mendorong ekspor minyak AS beberapa minggu ke depan. Premi Brent terhadap WTI kemarin turun sebesar US$0,49 atau 8,5 persen menjadi US$5,21 per barel, namun tetap di rentang yang terjaga selama tiga bulan belakangan, yang dianggap premi terlebar dalam dua tahun terakhir.

Lihat juga:Pemerintah Jamin APBN 2018 Aman Meski Asumsi Makro Berubah

Secara umum, pedagang menilai pasar ditopang oleh keyakinan bahwa negara anggota Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan negara non-OPEC bakal memperpanjang komitmen untuk membatasi produksi dalam pertemuan di Wina, Austria, pada 30 NOvember 2017 mendatang.

Sebelumnya, negara pemasok minyak dunia tersebut bersepakat untuk membatasi produksi sejak Januari 2017 hingga Maret 2018. Hal itu dilakukan untuk memangkas pasokan minyak dunia sehingga dapat mendongkrak harga.

Pasar berekspektasi OPEC dan negara-negara non-OPEC yang dipimpin Rusia bakal memperpanjang kesepakatan itu hingga akhir tahun depan.

“Seluruh mata fokus terhadap maju mundurnya OPEC menuju Wina, mengingat hasil pertemuan tersebut bakal menentukan nasib harga minyak dalam waktu dekat,” ujar Kepala Perdagangan untuk Asia/Pasific OANDA Stephen Innes.

Lihat juga : Elnusa Buka Suara Soal Perusahaan di Paradise Papers

Berdasarkan laporan outlook komoditas JP Morgan yang dirilis Selasa lalu, pasar perdagangan minyak di 2018 bakal seimbang ditopang oleh perpanjangan pengurangan produksi OPEC-NonOPEC. Namun, tanpa pemangkasan produksi lebih lanjut, pasokan pasar bakal berlebih.

“Kami memperkirakan harga Brent bakal berkisar US$40 hingga US$60 per barel, dengan rata-rata US$58 per barel pada tahun 2018. Rata-rata WTI diperkirakan US$54,6 persen barel,” ujar JP Morgan.

Lebih lanjut, pelaku pasar menyakini pasar minyak mentah seolah dibatasi oleh kenaikan produksi minyak mentah di AS, yang naik hampir 15 persen sejak pertengahan 2016 menjadi 9,65 juta barel per hari.

“Sementara perpanjangan kesepakatan OPEC untuk membatasi produksi mungkin bakal mendorong harga minyak pada jangka pendek, kenaikan produksi minyak AS bakal menghembuskan angin yang berlawanan, sehingga bakal membatasi keuntungan di atas,” ujar analis perdagangan berjangka FXTM, Lukman Otunaga. (agi)

Source : cnnindonesia.com