Optimisme Pembatasan Produksi OPEC Kerek Harga Minyak

Optimisme Pembatasan Produksi OPEC Kerek Harga MinyakKembali menguatnya harga minyak dunia pada Kamis (2/11), seiring makin optimisnya pasar terhadap kebijakan OPEC untuk melanjutkan pembatasan produksi minyak. (ANTARA FOTO/Rosa Panggabean)

Jakarta, CNN Indonesia — Harga minyak mentah kembali bergairah dan ditutup menguat pada perdagangan Kamis (2/11). Tercatat, secara rata-rata harga minyak telah meningkat sekitar 30 persen dari level terendah yang terjadi pada Juni lalu.

Dikutip dari Reuters, harga minyak mentah Brent naik US$0,13 per barel atau sekitar 0,2 persen menjadi US$60,62 per barel. Angka tersebut mendekati level tertinggi yang pernah dialami Brent pada pertengahan perdagangan Rabu (1/11), yaitu sebesar US$61,7 per barel.

Begitu pula dengan minyak mentah Amerika Serikat (AS), West Texas Intermediate (WTI) menguat US$0,24 per barel atau sekitar 0,4 persen menjadi US$54,54 per barel pada penutupan kemarin.

Analis berpendapat, kembalinya gairah harga minyak dunia karena pasar kian optimis dengan kebijakan Negara-negara Pengekspor Minyak Bumi (Organization of the Petroleum Exporting Countries/OPEC) dan Non OPEC untuk melanjutkan pembatasan produksi minyak sepanjang tahun depan.

Lihat juga : Harga BBM Diatur, Laba Pertamina Merosot 29 Persen

Pembatasan produksi yang semula mulai Januari 2017 sampai Maret 2018 sebesar 1,8 juta barel per hari (bph), diperkirakan akan kembali dilanjutkan lagi. Hal ini turut membuat pasar optimis bahwa kebijakan OPEC akan memperketat pasar dan persediaan akan terkuras.

Menteri Energi Arab Saudi, Khalid al-Falih mengatakan, saat ini, neraca penawaran dan permintaan kian ketat, sedangkan persediaan minyak menurun. Sementara, kepatuhan OPEC dan Non OPEC untuk membatasi produksi juga masih sangat baik.

Menteri Perminyakan Irak, Jabar Ali al-Luaibi mengungkapkan, sebagai produsen terbesar kedua OPEC, Irak mendukung pembatasan produksi minyak dunia guna meningkatkan harga. Ia melihat, harga minyak sebesar US$60 per barel menjadi target yang dapat diterima untuk negaranya.

“Kepatuhan secara keseluruhan untuk OPEC berakhir cukup kuat,” kata Mark Watkins, manajer investasi regional di A.S. Bank.

“Sekarang setelah kita membalik kalender ke bulan November kita mengadakan pertemuan OPEC di akhir bulan. Ada harapan bahwa akan ada komentar positif tentang memperpanjang pemotongan melewati bulan Maret,” imbuhnya.

Tak hanya dari sisi OPEC, sentimen menguatnya harga minyak dunia juga diberikan oleh penurunan persediaan minyak mentah AS, meski dari sisi produksi tengah meningkat.

Persediaan minyak mentah AS tercatat turun 2,4 juta barel sepanjang pekan lalu, meski dari sisi produksi meningkat 46 ribu bph menjadi 9,55 juta bph.

Lihat juga : Jusuf Kalla Tak Ingin Buru-buru Divestasi Freeport

Goldman Sachs memproyeksi, pertumbuhan produksi minyak AS dari tahun ke tahun sebesar 0,8-0,9 juta bph sampai akhir 2017. Hal ini akan membuat, produksi akhir minyak AS sekitar 9,6-9,7 juta bph atay mendekati level tertinggi setidaknya selama tiga dekade terakhir.

Sementara, pemasok minyak independen, Pioneer Natural Resources memperkirakan, pihaknya bisa mengekspor sekitar 2,3 juta barel pada kuartal IV 2017. (agi)

Source: cnnindonesia.com