OPEC Sepakat Perpanjang Pembatasan Produksi Minyak

OPEC Sepakat Perpanjang Pembatasan Produksi MinyakNegara anggota OPEC dan negara produsen minyak Non-OPEC yang dipimpin Rusia sepakat untuk memperpanjang pemangkasan produksi minyak hingga akhir 2018. (REUTERS/Ramzi Boudina)

Jakarta, CNN Indonesia — Negara anggota Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan negara produsen minyak Non OPEC yang dipimpin Rusia sepakat untuk memperpanjang pemangkasan produksi minyak hingga akhir 2018 pada Kamis (30/11). Seiring keputusan tersebut, harga minyak dunia pun ikut terkerek.

Harga minyak mentah AS naik 18 sen atau 0,3 persen menjadi US$ 57,58 pada 03.24 GMT. Kontrak berjangka minyak mentah Brent Februari naik 27 sen menjadi U$ 62,90.
Pada pertemuan di Wina, Rusia memberikan pesan yang jelas bagaimana mengeluarkan kebijakan pemangkasan produksi sehingga pasar tidak mengalami defisit terlalu cepat dan harga bergerak terlalu cepat.

Dikutip dari Reuters, Rusia membutuhkan harga minyak yang lebih rendah untuk menyeimbangkan anggarannya, dibandingkan negara pemimpin OPEC, Saudi Arabia. Saudi Arabia sedang mempersiapkan perusahaan minyaknya, Suadi Aramco mencari pendanaan di pasar modal pada tahun depan dan akan mendapatkan keuntungan dari kenaikan harga minyak.

Adapun kesepakatan negara-negara produsen tersebut yang berlaku saat ini adalah memotong pasokannya sebesar 1,8 juta barel per hari (bpd) guna mendorong harga minyak. Kesepakatan tersebut berlaku hanya hingga Maret 2018.

Menteri Energi Saudi Arabia Khald Al Falih menjelaskan, negara OPEC dan non-OPEC telah sepakat untuk memperpanjang pemangkasan produksi hingga akhir 2018.

OPEC juga memutuskan untuk membatasi produksi Nigeria dan Libya seperti tahun 2017, yakni di bawah 2,8 juta bpd. Kedua negara ini sempat dibebaskan dari kebijakan pemangkasan produksi minyak, karena kerusuhan dan produksi yang memang lebih rendah dari biasanya.

Falih mengatakan bahwa terlalu dini untuk membicarakan kemungkinan keluar dari pembatasan produksi, setidaknya untuk beberapa kuartal karena dunia memasuki musim dingin dengan permintaan yang rendah. Dia menambahkan bahwa OPEC akan memeriksa kemajuan pada pertemuan reguler berikutnya di bulan Juni.

“Ketika kami keluar dari kesepakatan ini, kami akan secara bertahap, untuk memastikan kami tidak membuat pasar terkejut,” ungkap dia.

Lihat juga:Perdagangan Negara G20 Sentuh Level Tertinggi Enam Tahun

Negara OPEC dan Rusia saat ini memproduksi 40 persen minyak dunia. Rusia pertama kali bekerja sama dengan OPEC di masa Presiden Vladimir Putin.

Dengan harga minyak naik di atas U$60, Rusia khawatir, perpanjangan untuk keseluruhan tahun 2018 dapat mendorong lonjakan produksi minyak mentah di Amerika Serikat, yang tidak berpartisipasi dalam kesepakatan tersebut.

Adapun pertemuan berikutnya akan digelar pada bulan Juni 2018 guna memberi kesempatan untuk menyesuaikan kesepakatan berdasarkan kondisi pasar. (agi)

Source : cnnindonesia.com