Nilai Seaborne Trade Laut China Selatan Capai 5,3 T Dolar AS Per Tahun

Posted By: Redaksion: November 24, 2016In: Featured, Shipping

wp-1479965968892

JMOL. Sepertiga dari perdagangan minyak dunia melintasi kawasan Laut China Selatan (LCS). Bahkan, lebih dari setengah perdagangan gas alam dunia juga melewati wilayah utara Indonesia tersebut.

Menurut Profesor Jamie B. Naval dari University Philipine Diiliman (UPD), Filipina, nilai ekonomi perdagangan yang melintasi LCS pertahunnya mencapai 5,3 triliun USD. LCS menjadi jalur lintasan utama perdagangan dunia yang menjadi jembatan antara kawasan timur dan tenggara asia.

“Hal inilah yg menjadi pertimbangan Amerika Serikat dalam menjaga kebebasan pelayaran di wilayah tersebut,” ujar Jaime dalam paparannya di International Maritime Seminar, di Seskoal, Jakarta, Kamis (24/11).

Dalam seminar yang mengangkat tema “South China Sea Dispute” tersebut Jamie memaparkan selain menyimpan ekonomi perdagangan yang besar LCS juga menyimpan kekayaan sumber daya alam yang besar. Diperkirakan LCS memiliki kekayaan cadangan minyak sebesar 11 miliar barrel.

“Terdapat potensi cadangan gas alam yang tersimpan sebesar 190 Trillion Cubic Feet (TCF),” ungkapnya.

Meski demikian, lanjut Jaime, sebagian besar cadangan migas di LCS tidak berada di lokasi yang menjadi daerah konflik antar negara, melainkan kebanyakan berada di wilayah pantai sekitar LCS.

“Dari 50 persen potensi, hanya 5-6 bbl cadangan minyak yang bisa diekstraksi,” ucapnya.

Jumlah tersebut, lanjut Jamie, hanya sebanding dengan 6 bulan nilai impor minyak China. Adapun secara keseluruhan cadangan gas di kawasan ini berjumlah sebanding dengan permintaan gas Negeri Tirai Bambu tersebut selama 28 tahun.

“Sementara klaim Vietnam LCS hanya memiliki kandungan 20 TCF gas atau sebanding dengan permintaan gas China selama 3 tahun, bahkan hitungan Filipina lebih kecil lagi yakni sebesar 4.0 TCF,” tukasnya.

Dengan letaknya yang strategis dan potensi sumber daya alam yang besar tersebut menjadi faktor yang menyebabkan Laut Cina Selatan menjadi sumber konflik dan sengketa antar negara, tidak hanya di kawasan tapi juga secara global.

Adanya tumpang tindih klaim beberapa negara terkait wilayah kedaulatannya di LCS membuat wilayah itu menjadi pusat konflik di wilayah Asia Pasific. Beberapa negara yang terlibat sengketa diantaranya seperti China, Vietnam, Filipina, Malaysia, dan Brunei. Pihak yang bersengketa memiliki argumentasi masing-masing untuk memperkuat klaim kepemilikan atas kawasan yang disengketakan menurut versinya masing-masing. [AI]