MIGAS NATUNA: Demi Kedaulatan NKRI, Eksplorasi Dipercepat

 
Presiden Joko Widodo meninjau KRI Imam Bonjol 383 usai memimpin rapat rapat terbatas tentang Natuna di atas kapal perang tersebut saat berlayar di perairan Natuna, Kepulauan Riau, Kamis (23/6).Presiden Joko Widodo meninjau KRI Imam Bonjol 383, seusai memimpin rapat terbatas tentang Natuna di atas kapal perang tersebut, di perairan Natuna, Kepulauan Riau, Kamis (23/6).

 

JAKARTA – Pemerintah akan mempercepat pengembangan potensi minyak dan gas bumi di kawasan Natuna agar kedaulatan NKRI di wilayah tersebut bisa ditegakkan. Blok East Natuna menjadi kunci pengembangan potensi migas tersebut.

Presiden RI Joko Widodo mengatakan di sekitar perairan Natuna ada sekitar 16 blok minyak dan gas bumi ( migas), tetapi baru ada 5 wilayah kerja yang sudah berproduksi. Sementara itu, tujuh wilayah kerja masih dalam tahap eksplorasi dan empat  wilayah kerja dalam tahap terminasi.

“Ini kita dorong agar proses produksi bisa segera dilakukan,” katanya saat membuka rapat kabinet terbatas tentang Pengembangan Potensi Ekonomi Kepulauan Natuna, Rabu (29/6/2016).

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral IGN Wiratmaja Puja mengatakan blok migas yang sudah berproduksi sebenarnya ada tujuh, tetapi yang besar ada lima blok.

Sementara itu, 10 blok migas yang masih eksplorasi masih terus berjalan prosesnya, seperti melakukan seismik, geological dan geospasial (GnG) dan juga pengeboran. Bahkan untuk Blok Tuna yang dikelola oleh Premier Oil sudah ditemukan.

“Namun, lokasi jauh di utara, dan harus membangun pipa sepanjang 300 kilometer menuju barat. Jadi masih menunggu blok-blok lain . Kita akan fokuskan di Blok East Natuna, begitu itu bisa mulai dibangun maka blok-blok lain akan terhubung ke sana,” katanya.

Dia mengungkapkan untuk perairan Natuna Barat sudah banyak platform sehingga China tidak berani melakukan klaim, tetapi untuk wilayah Natuna timur diklaim karena tidak banyak platform. Oleh karena itu, lanjutnya, Presiden memberi arahan agar kawasan Natuna Timur segera dibangun.

PRODUKSI 2027

Menurutnya, Konsorsium PT Pertamina (persero), Exxonmobil dan PTT saat ini melakukan kajian soal Blok East Natuna terkait usulan split bagi hasil dan juga usulan fasilitas libur pajak (tax holiday). Pihaknya menargetkan blok dengan potensi gas empat kali lipat Blok Masela itu bisa diproduksi pada 2027 hingga 2028.

Pasalnya, pengembangan Blok East Natuna menjadi kunci blok migas di sekitarnya untuk bisa berproduksi seperti Blok Northeast (NE) Natuna, Blok Tuna, Blok Sokang, Blok South Sokang, Blok North Sokang dan Blok East Sokang.

“Arahan Presiden mempercepat blok eksplorasi kalau bisa jadi blok produksi, maka ini kita percepat. Paling cepat 2027, karena ini onstream 2027, maka blok sekitarnya akan terbangun,” ujarnya.

Wirat –sapaan akrab Wiratmaja Puja—mengungkapkan potensi investasi di sektor migas di perairan Natuna timur mencapai lebih dari US$20 miliar jika seluruh blok di kawasan tersebut dibangun semua.

Adapun, 10 blok yang masih eksplorasi tersebut memiliki prakiraan cadangan 46 triliun kaki kubik (trillion cubic feet/TCF). Sementara, saat ini blok yang sudah berproduksi memiliki cadangan 4 TCF dengan produksi gas 489 juta kaki kubik per hari (million metric cubic feet per day/MMscfd) dan produksi minyak 25.000 barel per hari.