Mendulang Uang dari Bisnis Docking Kapal

Ketika pemerintah membangun ratusan kapal negara baru mulai tahun lalu, tidak terbayangkan kemana nantinya kapal tersebut harus dirawat?

Kapal yang dibangun Kementerian Perhubungan (Kemenhub) saja jumlahnya kurang lebih 150 unit kapal. Jumlah itu belum termasuk kapal instansi lain serta perusahaan swasta yang tengah dibangun atau yang sudah dioperasikan. Bisa dibayangkan panjangnya antrean kapal naik dock jika datang pada masa perawatan rutin.

Dengan asas cabotage – yang mewajibkan muatan domestik diangkut kapal dalam negeri – secara otomatis mengenjot pertumbuhan kapal-di dalam negeri juga menjadi faktor pendukung bagi potensi bisnis perawatan kapal (docking) di Indonesia.

Berdasarkan data Kemenhub, pertumbuhan jumlah kapal nasional sejak Mei 2005 hingga Desember 2015 naik hingga 167% atau menjadi 16.142 unit kapal.

Ceruk pasar perawatan kapal itu rupanya dilirik beberapa galangan kapal yang berbasis di Cirebon, Jawa Barat. Salah satunya, PT Dok Bahari Nusantara, perusahaan galangan kapal yang baru berumur empat itu berencana membangun fasilitas drydock di kawasan Pelabuhan Cirebon yang dikelola PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) II.

Tidak tanggung-tanggung, perusahaan berani menanamkan modal Rp100 miliar guna membangun fasilitas drydock. Komisaris Utama PT Dok Bahari Nusantara Sudiding Irsyad mengatakan perusahaannya memang menyasar perawatan untuk kapal dengan ukuran besar seperti kapal penumpang, kapal roll on roll off (Ro-ro), kapal perintis dan kapal PT Pertamina ukuran 13.000 gross tonnage (GT)-17.000 GT yang khusus mengangkut BBM dan gas.

Dia memutuskan membangun drydock dengan ukuran besar yakni panjang 220 meter dan lebar 40 meter. “Kita sedang mengajukan izin reklamasi seluas 10 ha untuk dock-ing. Sudah dapat izin tinggal tunggu Amdal-nya dari KLH Propinsi Jawa Baat,” ujarnya, Rabu (9/3).

Dia menargetkan proyek itu dapat berjalan secepatnya pada pertengahan tahun sehingga pada akhir 2017, fasilitas perawatan kapal ini sudah selesai.

Ambisinya lahir setelah pria yang akrab dipanggil Diding melihat potensi besar di pasar perawatan dan docking kapal. Dia menghitung Indonesia hanya ada 81 unit galangan kapal yang aktif.

Dai 81 unit galangan kapal, dia memperkirakan tidak sampai setengahnya menekuni bisnis perawatan kapal. Lantas bagaimana kapal milik pemerintah harus dirawat jika docking penuh?

“Jadi bisa dihitung jari galangan kapal yang bisa melakukan maintenance. Saya khawatir banyak kecelakaan karena infrastruktur tidak siap,” ungkapnya.

Tidak banyaknya pengusaha yang fokus di bidang perawatan kapal diakibatkan oleh investasi lahan dan peralatan yang sangat mahal.

Menurut pengalaman Diding, risk management perbankan tidak yakin dengan industri pelayaran karena perbankan menilai industri transportasi tengah lesu dan hal itu berimbas kepada pengusaha galangan kapal. “Padahal itu tidak benar,” ujamya.

Pasar minyak bumi memang melemah sehingga berimbas pada angkutan offshore, tetapi pasar angkutan batu bara, gas dan kargo dalam negeri masih baik.

Kapal yang bertebaran di perairan Cirebon bukan menunggu sandar, tetapi antre untak masuk docking. Bila tidak membangun kapal, Dok Bahai Nusantara biasanya rutin menerima perbaikan dan perawatan kapal. Dia memperkirakan perusahaan bisa mengambil 12-15 order perbaikan.

Diding mengatakan biaya perbaikan dan perawatan kapal tergantung ukuran dan jenis perbaikan. Untuk kapal tugboat, dia memperkirakan kisarannya dimulai dai Rp400 juta. Dari nilai tersebut, Dok Bahari Nusantara dapat mengantongi untung sekitar Rp 120 juta.

“Kalau kapal besar, seperti kapal penumpang docking besar bisa Rp10 miliar. Apalagi kalau modifikasi badan, interior dan Iain-lain, bisa gila-gilaan. Jadi kalau kapal itu maintenance-nya mirip-mirip dengan pesawat kalau saya lihat. Dai drawing-nya sudah diawasi klas, materialnya sampai operasinya juga diawasi klas,” paparnya.

Pada masa mendatang, dia melihat Cirebon berpotensi menjadi basis bagi perawatan kapal ternak karena Pelabuhan Cirebon telah menjadi base kapal tersebut.

TERKENDALA IZIN

Pada tahun ini, PT Gamatara Trans Ocean Shipyard, galangan kapal yang lokasinya dekat dengan Pelabuhan Cirebon, mengalami surplus order perawatan kapal. Okupansi galangannya kini sudah mencapai 90%.

Oleh karena itu, galangan yang khusus fokus di bisnis perawatan dan docking kapal ini berencana memperluas area yang semula 21.585 m2 menjadi 102.670 m2 melalui reklamasi.dan pematangan lahan.

Muarip Santoso, Direktur Utama PT Gamatara Trans Ocean Shipyard, menjelaskan reklamasi lahan ditujuan membangun graving dock sebanyak tiga unit bagi kapasitas kapal dengan panjang 400 kaki.

Menurutnya, fasilitas perusahaan yang terdiri dari dua unit graving dock, dua unit floating dock dan satu unit slip way dengan kapasitas 60 kapal per tahun terus meningkat permintaannya dalam lima tahun terakhir.

“Ini harapannva per Juni sudah berjalan, tetapi perlu dukungan pemerintah agar kami diizinkan memperlebar akses masuk dengan membuka breakwater,” ujarnya.

Pembukaan pemecah ombak atau breakwater dimaksudkan melaksanakan pelebaran akses masuk ke area galangan yang diakui sudah sesuai dengan masterplan Pelabuhan Cirebon. Adapun, akses pelebaran alur masuk yang diperlukan sekitar 50 meter.

Dia mengaku sudah dua kali mengirimkan surat kepada Kantor Syahbandar dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Cirebon dengan iktikad menyelesaikan masalah itu. Namun, perusahaannya belum mendapat respons dai KSOP Cirebon. Padahal, dia berharap fasilitas peresmian ini bisa dibuka pada Agustus 2016.

Bahkan, Gamatara Trans Ocean Shipyard ingin peresmian dapat dihadiri Presiden Joko Widodo atau menteri Kabinet Kerja. Saat ini, menurutnya, tidak banyak pemain galangan kapal yang besar di
Cirebon.

Dengan demikian, dia memperkirakan pasar perawatan kapal dan docking di sana akan berkembang selaras dengan pembangunan fasilitas perusahaan.

Selain itu, perusahaan mengharapkan KSOP Cirebon segera memproses Hak Pengelolaan Lahan (HPL) tahap kedua seluas 48.900 meter persegi ini dapat dialihkan menjadi Hak Guna Bangunan (HGB) di atas HPL milik otoritas tersebut.

Hadijah Alaydrus
hadijah.alaydrus@bisnis.com

Source : Bisnis Indonesia – 16 Maret 2016