Kontraktor Migas Wajib Pakai Kapal dan Anjungan ‘Made in Indonesia’

Jumat 09 Dec 2016, 09:52 WIB — Michael Agustinus – detikFinance

24Foto: Michael Agustinus

Karimun – Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mewajibkan perusahaan hulu migas yang menjadi Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) di Indonesia, untuk menggunakan kapal dan anjungan buatan dalam negeri.

Tak hanya harus dibuat di Indonesia, servis kapal juga harus dilakukan di galangan-galangan kapal dalam negeri. Ini berlaku untuk semua jenis dan ukuran kapal. Perintah ini dibuat Kepala SKK Migas, Amien Sunaryadi, pada 12 Agustus 2016.

“Tanggal 12 Agustus 2016 lalu, SKK Migas mengeluarkan edaran yang isinya untuk hulu migas, pembuatan kapal, top side, platform, konversi kapal, juga docking kapal harus dilakukan di Indonesia,” tegas Amien, saat berkunjung ke fabrication shipyard PT Saipem Indonesia di Karimun, Kepulauan Riau, Kamis (8/12/2016).

Amien menambahkan, kunjungannya ke galangan milik PT Saipem Indonesia adalah untuk membuktikan, Indonesia sudah tak perlu mengimpor kapal dan anjungan untuk keperluan hulu migas.

Galangan ini adalah yang terbesar di kawasan Asia Pasifik dan sudah berkelas dunia. Fabrication shipyard di Karimun ini sudah bisa mengerjakan hal-hal yang amat sulit, misalnya memasang Topside Module seberat 14.000 ton ke kapal Floating Production Unit (FPU).

“Kami datang ke sini juga untuk membuktikan bahwa proses itu bisa dilakukan di Indonesia. Jadi galangan maupun fabrication yard di Indonesia mampu untuk memenuhi seluruh kebutuhan-kebutuhan untuk hulu migas,” ujar Amien.

Menurutnya, penggunaan kapal dan anjungan ‘Made in Indonesia’ tak akan membuat biaya produksi migas di Indonesia jadi tak efisien. Biaya produksi migas yang harus diganti oleh negara kepada KKKS (cost recovery) tidak akan naik. Sebab, kapal dan anjungan migas buatan Indonesia sudah cukup kompetitif, berdaya saing kuat, tak kalah dari produk negara lain dalam hal kualitas maupun harga.

“Kompetitif kok kalau dibuat di Indonesia. Kapal yang di bawah kendali SKK Migas ada lebih dari 500 kapal. Jadi kalau mereka harus docking, tentu lebih efisien docking di galangan Indonesia daripada di luar negeri,” ujarnya.

Kapasitas produksi galangan-galangan di Indonesia juga sudah bisa memenuhi seluruh kebutuhan hulu migas nasional.

“SKK Migas sudah mengobservasi banyak galangan dan fabrication yard. Bahkan perlu diketahui, Saipem punya beberapa fabrication yard di beberapa negara. Yang di Karimun ini milik Saipem terbesar di dunia,” tutupnya. (drk/drk)

Source : detik.com