Komoditas — Tingkat Kepatuhan Pemangkasan Produksi OPEC Dorong Rebound Harga Minyak

Maret 09 / 2017 — 12:10 WIB
Oleh : Renat Sofie Andriani
Harga minyak naik – Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak mentah rebound pada perdagangan hari ini (Kamis, 9/3/2017), setelah turun tajam pada sesi perdagangan sebelumnya, ditopang oleh kuatnya tingkat kepatuhan terkait pemangkasan produksi internasional.

Berdasarkan data Bloomberg, harga minyak WTI kontrak April 2017 rebound 0,64% atau 0,32 poin ke US$50,60 per barel pada pukul 11.12 WIB, setelah dibuka turun 0,12% atau 0,06 poin di posisi 50,22.

Adapun, patokan Eropa minyak Brent untuk kontrak Mei 2017 menguat 0,85% atau 0,45 poin ke level US$53,56, setelah dibuka rebound 0,72% atau 0,38 poin di posisi 53,49.

Baik minyak WTI dan Brent kemarin berakhir terjerembab lebih dari 5% setelah data minyak mentah AS menunjukkan lonjakan ke rekornya, lebih besar dari prediksi, sehingga memicu kecemasan berlanjutnya kelebihan global.

Seperti dilansir Reuters, menteri minyak Kuwait kemarin menyatakan bahwa tingkat kepatuhan organisasi negara-negara pengekspor minyak bumi (OPEC) terhadap kesepakatan pemangkasan produksi telah melampaui target, mencapai posisi 140% pada Februari

Sementara itu, tingkat kepatuhan para anggota non-OPEC mencapai kisaran 50%-60%.

Meski demikian, dukungan dari sentimen kepatuhan atas upaya pemangkasan produksi terhadap harga minyak dibatasi oleh lonjakan pada jumlah stok minyak mentah AS.

“Kenaikan harga [minyak] hari ini dapat terjadi sementara. Salah satu faktornya [penekan harga] ialah penguatan dolar AS akibat ekspektasi kenaikan suku bunga AS,” ujar Michael McCarthy, chief market strategist CMC Markets.

Indeks dolar AS pagi ini terpantau naik 0,06% atau 0,060 poin ke posisi 102,130 pada pukul 10.03 WIB setelah berakhir menguat 0,26% di posisi 102,070 pada perdagangan Rabu.

Indeks dolar menguat seiring tumbuhnya ekspektasi atas data pekerjaan AS yang lebih kuat dari ekspektasi serta potensi kenaikan suku bunga AS oleh Federal Reserve dalam pertemuan kebijakannya pekan depan.

Nilai dolar yang kuat membuat harga komoditas, termasuk minyak, menjadi lebih mahal bagi negara-negara pengimpor sehingga dapat mengurangi permintaan.

Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Source : bisnis.com