Kisruh Irak Bikin Harga Minyak Menanjak

Kisruh Irak Bikin Harga Minyak MenanjakTercatat, harga minyak mentah Brent menguat US$0,65 atau naik 1,1 persen menjadi US$57,82 per barel pada penutupan perdagangan Senin (16/10). (REUTERS/Sergei Karpukhin)

Jakarta, CNN Indonesia — Situasi panas di Kota Kirkuk, Irak pada akhir pekan kemarin rupanya langsung mengerek harga minyak mentah dunia hingga sekitar 1 persen pada penutupan perdagangan Senin (16/10).

Pada akhir pekan kemarin, pasukan paramiliter Syiah binaan Iran yang disebut “Mobilisasi Populer” memberi peringatan kepada pasukan Peshmerga Kurdi agar meninggalkan Kirkuk.

Sayang, peringatan tersebut tak diindahkan. Justru, sejak peringatan diberikan, pasukan Peshmerga Kurdi langsung berjaga di persimpangan Kirkuk dilengkapi senapan mesin.

Lihat juga:Jonan Temui Pemain Besar Migas dalam Lawatan ke Jepang

Pemerintah Irak sendiri terpaksa memberikan peringatan lantaran referendum kemerdekaan Kurdi yang ingin lepas bagian dari pemerintahan pusat memberi sentimen negatif pada perekonomian.

Salah satunya, karena terputusnya jalur produksi dari ladang minyak utama di kawasan Kurdistan, yaitu Bai Hassan dan Avana, dengan kapasitas mencapai 350 ribu barel per hari.

Meski, pemerintah daerah Kurdi menyebut bahwa produksi minyak tetap dialirkan melalui jalur ekspor dan tidak ada langkah menghentikannya. Namun, situasi tersebut membuat Turki ikut cemas dan mengancam akan menutup jalur produksi dari Kurdi atas permintaan pemerintah pusat di Baghdad, Irak.

Tercatat, harga minyak mentah Brent menguat US$0,65 atau naik 1,1 persen menjadi US$57,82 per barel. Sedangkan minyak mentah Amerika Serikat (AS), West Texas Intermediate (WTI) meningkat US$0,42atau 0,8 persen menjadi US$51,87 per barel.

“Kontrol pemerintah terhadap ladang minyak dan Kurdi terhadap pipa menciptakan tantangan bagi kelanjutan ekspor minyak. Baghdad masih memerlukan kesepakatan pembagian pendapatan baru dengan Irbil dan berbagai partai Kurdi,” ujar Grup Eurasia, seperti dikutip dari Reuters, Selasa (17/10).

Analis pasar energi CHS Hedging LCC di Inver Grove Heights, Anthony Headrick melihat, hal ini sukses membuat pasar minyak dunia cemas lantaran sekitar 600 ribu barel minyak dihasilkan di Kurdistan, Irak bagian utara itu.

“Kami melihat ketegangan geopolitik yang meningkat di Timur Tengah memberikan dukungan di pasar saat ini, yaitu di Kurdistan Irak dan beberapa ketidakpastian di sekitar Iran,” kata Anthony.

Sentimen lain, datang dari pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menolak kesepakatan bahwa Teheran telah mematuhi kesepakatan. Sehingga, kongres AS memiliki waktu sekitar 60 hari untuk memutuskan apakah akan mengajukan sanksi ekonomi ke Teheran.

Analis melihat, bila sanksi tersebut dijatuhkan, maka akan kembali memberi sentimen negatif pada produksi minyak Iran, yang sebelumnya telah terputus sekitar 1 juta barel.

Lihat juga:Mulai Besok, Harga BBM di Sambas Sama dengan Jakarta

Lalu, ada pula sentimen dari peningkatan konsumsi minyak mentah China. Hal ini merujuk pada pernyataan Bank Sentral China yang mengatakan bahwa ekonomi Negeri Panda itu bisa tumbuh hingga 7 persen pada paruh kedua tahun ini.

Pernyataan itu sekaligus menepis beberapa anggapan yang menyebut bahwa ekonomi China tengah melambat.

“Data impor China yang mendukung dari hari Jumat menghasilkan percikan di pasar energi yang berlanjut sampai hari ini,” kata Headburn CHS Hedging. (gir)

Source : cnnindonesia.com