Khawatir Produksi Meningkat, Harga Minyak Terperosok

Khawatir Produksi Meningkat, Harga Minyak Terperosok Persediaan OPEC meningkat pada Mei lalu, seiring perbaikan produksi di Libya dan Nigeria, dua negara yang dikecualikan dari kebijakan pembatasan produksi. (REUTERS/Sergei Karpukhin).

Jakarta, CNN Indonesia — Harga minyak terperosok satu persen setelah muncul kekhawatiran kenaikan produksi minyak di AS, Libya, dan Nigeria. Hal ini berpotensi mengganggu upaya organisasi negara-negara pengeskpor minyak (Organization of the Petroleum Exporting Countries/OPEC) dalam memangkas produksi.

Dilansir Reuters, Selasa (20/6), persediaan OPEC meningkat pada Mei lalu, seiring perbaikan produksi di Libya dan Nigeria, dua negara yang dikecualikan dari kebijakan pembatasan produksi. Produksi Libya telah meningkat lebih dari 50 ribu barel per hari setelah perusahaan minyak nasional menyelesaikan sengketa dengan perusahaan asal Jerman, Wintershall.

Lihat juga : Pemerintah Beri Sinyal Urung Naikkan Harga BBM Usai Lebaran

Sejumlah analis memperkirakan kenaikan produksi minyak mentah AS juga menyumbang persediaan global. Data pada hari Jumat lalu menunjukkan, ada rekor tambahan aktivitas pengeboran minyak dalam 22 pekan berturut-turut.

Presiden Lipow Oil Associates yang bertempat di Houston, negara bagian Texas, Andrew Lipow mengatakan, saat ini, banyak tanker yang digunakan untuk penyimpanan minyak. Selain itu, banyak minyak mentah dari Afrika Barat, serta Eropa ditawarkan ke Meksiko. Padahal, wilayah Teluk Meksiko merupakan pengekspor minyak mentah jenis light sweet.

“Tentunya, ini adalah tanda bahwa pasar masih kelebihan pasokan,” ujar Lipow.

Akibatnya, harga Beent LCOc1 melemah US$0,46 per barel ke angka US$46,91 per barel. Sementara itu, harga West Texas Intermediate (WTI) melemah US$0,54 per barel ke angka US$44,20 per barel. Kedua posisi itu merupakan yang terlemah sejak bulan November 2016 silam.

Lihat juga : Bangun Kilang Minyak, Pertamina Bisa Tabrak Standar Akuntansi

Harga Brent dan WTI telah turun 15 persen sejak akhir bulan lalu, ketika anggota OPEC berjanji akan memperpanjang kebijakan pemangkasan produksi dalam waktu 9 bulan berikutnya sebesar 1,8 juta barel per hari.

Tak cuma itu, terdapat pula sinyal penurunan permintaan di Asia sebagai wilayah dengan konsumsi minyak tertinggi di dunia. Contohnya, impor ke Jepang turun 13,5 persen pada Mei dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara, India mengambil impor minyak mentah 4,2 persen lebih sedikit di periode yang sama. (bir)

Source : cnnindonesia.com