Kesepakatan Pembatasan Produksi – Volatilitas Harga Minyak Reda

JAKARTA — Volatilitas harga minyak mulai mereda dan mendorong komoditas utama dunia tersebut untuk mendidih di tengah melimpahnya suplai dan rencana produsen-produsen terbesar di dunia untuk membatasi produksi.

Pada penutupan perdagangan Jumat (4/3) harga minyak West Texas Intermediate (WTI) kontrak April 2016 naik 1,35 poin atau 3,19% menjadi US$35,92 per barel. Sedangkan minyak Brent harganya berada di level US$38,72 per barel, meningkat 1,65 poin atau 4,45%.

Sepanjang Februari, pasar tertuju pada aksi Arab Saudi yang bakal terlibat dalam pemotongan pasokan minyak untuk mencapai kestabilan harga.

Pasalnya, pada 2014 silam, produsen terbesar sekaligus pimpinan Organization of Petroleum Exporting Countries atau OPEC tersebut menyatakan akan tetap memacu produksi untuk mempenahankan pasar, meskipun harga semakin merosot.

OPEC melancarkan strategi tersebut dengan harapan negara nonanggota akan tersingkir dengan sendirinya dari pasar. Pasalnya, besar kemungkinan ongkos produksi akan melebihi harga jual.

Suksesnya koordinasi antara Menteri Perminyakan Arab Saudi Ali al-Naimi dan Venezuela pada awal bulan lalu, yang berlanjut pada kesepakatan untuk membekukan produksi pada 16 Februari antara Arab Saudi dan Rusia, mendorong CBOE Crude Oil Volatility Index rata-rata mencapai tingkat tertinggi sejak 2009.

CBOE Crude Oil Volatility Index mencapai tingkat tertinggi sejak 2009.

Produksi OPEC bulan lalu turun 79.000 barel per hari menjadi 33,06 juta barel per hari. Penyedotan Saudi tidak berubah sejak Januari, sedangkan Iran menambah 140.000 barel per hari.

Senior Analyst Samsung Futures Inc. Hong Sung Ki mengatakan, sejak Saudi dan Rusia mencapai kesepakatan membekukan output pada Januari, volatilitas pasar telah mereda. Fokus harga minyak secara stabil bergeser kembali ke faktor fundamental.

“Minyak kini lebih stabil dalam beberapa bulan mendatang, mungkin bisa sampai tingkat US$40 per barel. Setidaknya sampai pertemuan OPEC pada Juni mendatang,” ujarnya seperti dikutip dari Bloomberg, Jumat (4/3).

Sentimen positif juga datang dai Amerika Serikat. Berdasarkan data US Energy information Administration (EIA) tingkat produksi minyak AS pekan lalu ialah 9,08 juta barel per hari. Angka ini menjadi level penyedotan terendah sejak November 2014.

Menteri Petroleum Resources Nigeria Emmanuel Ibe Kachikwu mengatakan, pada bulan ini sejumlah anggota kunci OPEC akan mengadakan pertemuan dengan produsen non-anggota di Rusia untuk memperbarui kesepakatan pembekuan produksi. Hal tersebut tentunya akan menjadi penentu pergerakan harga ke depan.

Volatilitas Harga Mintay - 2

SENTIMEN POSITIF
Menghijaunya minyak juga terdorong oleh data pekerja AS yang memuaskan. Departemen Tenaga Kerja setempat melansir pada Jumat (4/3) penyerapan tenaga kerja AS atau non-farm payroll (NFP) bulan lalu mencapai 242.000.

Head of Commodity Markets Strategy BNP Paribas SA di London Harry Tchilinguirian menyampaikan, pertumbuhan data tenaga kerja sebetulnya menaikkan gelombang risiko terhadap komoditas. Harapannya, AS tetap menurunkan produksi sehingga tetap memberikan senimen positif terhadap harga.

Analis Central Capital Futures Wahyu Tribowo Laksono menuturkan, selama ini sejumlah faktor yang memengaruhi harga minyak ialah nilai dolar AS, geopolitik, intervensi OPEC, serta tingkat suplai dan permintaan.

Membaik NFP memang dapat memulihkan ekonomi AS dan mengangkat sentimen positif sektor lainnya. Namun, penguatan dolar justru berpotensi menekan harga komoditas ke depannya. (B)

Source: Business Indonesia – 7 Maret 2016