Kenapa RI Bergantung Pada Impor Minyak? Ini Penjelasan Luhut

Michael Agustinus – detikfinance
Kamis, 08/09/2016 10:59 WIB
1 Foto: Lamhot Aritonang
Jakarta -Indonesia memiliki banyak sumber energi, baik energi fosil maupun energi baru terbarukan (EBT). Dengan kekayaan ini, harusnya Indonesia bisa berdaulat di bidang energi. Tapi nyatanya Indonesia amat bergantung pada impor minyak bumi dan BBM.

Menko Kemaritiman sekaligus Plt Menteri ESDM, Luhut Binsar Panjaitan, menyebut ini semua akibat miss management di sektor energi. Banyak regulasi-regulasi yang malah merugikan negara.

Misalnya Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2010 (PP 79/2010). Aturan soal cost recovery dan pajak di hulu migas ini membuat investasi di hulu migas tidak menarik. Investor malas mencari minyak di Indonesia karena banyaknya pajak yang dibebankan.

“Masalah ketahanan energi, ini miss management saja. Selama sebulan saya jadi Plt Menteri ESDM, saya melihat salah urus saja semua. Terlalu banyak aturan tumpang tindih yang mengikat kita sendiri. Misalnya PP 79, ya orang nggak maulah belum apa-apa sudah dipajakin,” papar Luhut, dalam Forum Ketahanan Energi Nasional di Hotel Sahid, Jakarta, Kamis (8/9/2016).

Luhut menjelaskan, perairan Indonesia punya begitu banyak potensi migas. Tapi tak ada investor yang mau melakukan eksplorasi karena banyaknya pajak sebagaimana diatur dalam PP 79/2010. Sementara eksplorasi migas di laut dalam sangat besar risikonya. Akibatnya, cadangan terbukti minyak Indonesia tak bertambah, hanya 3,6 miliar barel, tidak ada penemuan cadangan baru.

“Potensi laut dalam kita di minyak sangat besar, bisa 100 miliar barel. Gas juga begitu. Tapi cost-nya jadi tinggi. 1 sumur bisa US$ 100-125 juta, kalau dry hole langsung hilang itu. Kita harus kasih insentif. Kalau IRR hanya 4-5 persen ya nggak ada yang mau. Cadangan kita 3,6 miliar tidak pernah bertambah karena kita tidak melakukan eksplorasi lagi,” ucapnya.

Kalau saja eksplorasi di laut dalam lebih banyak dilakukan, laju penurunan produksi minyak Indonesia dapat ditahan, impor minyak pun tidak terus bertambah.

“Sea bed mining berpuluh tahun nggak pernah kita touch. Di laut dalam itu potensi gas dan minyak masih banyak. Pernah dieksplorasi? Belum. Kalau kita eksplorasi, penurunan produksi kita yang menurun drastis itu bisa diatasi,” tuturnya.

Untuk mengatasi masalah ketergantungan pada impor energi ini, harus ada komitmen kuat melakukan perbaikan. Apakah Indonesia bisa terbebas dari impor energi atau tidak, tergantung pada kesungguhan para pemangku kepentingan.

“Sekarang kita mau nggak? Atau mau impor saja? Sepanjang kita bisa lakukan eksplorasi dengan baik, kembangkan EBT, banyak sekali, kita bisa,” tutupnya.

 (wdl/wdl)
source : detik.com