Investasi Asing – Iperindo minta BKPM Selektif

JAKARTA – Pelaku usaha galangan kapal nasional meminta pemerintah selektif dan melibatkan asosiasi dalam menerima investasi asing di sektor maritim.

Ketua Umum Ikatan Perusahaan Industri Kapal & Sarana Lepas Pantai Indonesia (Iperindo) Eddy K Logam menyambut positif rencana investasi sektor maritim dari Australia senilai US$172 juta atau setara dengan Rp2,3 triliun. Namun, Eddy mengingatkan pemerintah untuk terus mengoordinasikan investasi asing tersebut kepada asosiasi pengusaha galangan kapal dalam negeri.

“Pemerintah juga harus bijak memilih investasi, jika investasi galangan kapal hanya ukuran menengah, sampai 50.000 DWT buat apa? Kebutuhan saat ini adalah investasi galangan kapal berskala besar,” ujarnya kepada Bisnis, Senin (7/3).

Eddy menjelaskan pentingnya Indonesia memiliki investor untuk galangan kapal dengan syarat mampu mendorong kemajuan dalam negeri. Salah satu syarat yang penting adalah mencari investor yang mau melakukan transfer pengetahuan dengan pelaku usaha dalam negeri.

“Karena ada kemampuan-kemampuan khusus yang membutuhkan transfer of knowledge, untuk kapal canggih dan modern, jadi investor juga bisa memberikan nilai tambah untuk industri dalam negeri,” terangnya.

Sejak setahun lalu, Eddy menilai pihaknya sudah berkoordinasi dengan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) terkait sejumlah kebutuhan investasi pengusaha galangan kapal. Sayangnya, sampai kini daftar kebutuhan yang diajukan oleh IPERINDO belum mendapatkan respons dari BKPM.

Eddy berharap setiap kerja sama investasi dengan asing selalu memberikan nilai tambah dan kemajuan bagi pengusaha.

“Untuk penerapan investasi asing harus ada koordinasi antara pemerintah dengan asosiasi pengusaha dalam negeri, jangan jalan sendiri-sendiri. Supaya pemerintah juga tahu apa kebutuhan pelaku usaha dalam negeri,” tuturnya.

Sebelumnya, Kepala BKPM Franky Sibarani mengatakan sektor maritim yang dilirik Australia adalah jasa kapal wisata (cruise), industri galangan kapal dan budi daya lobster. Minat investasi tersebut terdiri dari minat investasi terminal pelabuhan senilai US$30 juta, operator pelabuhan Tanjung Api-api dengan nilai investasi US$120 juta, rencana perluasan investasi di bidang jasa wisata kapal pesiar sebesar US$7 juta, investasi baru di bidang galangan kapal senilai US$10 juta dan minat investasi budi daya lobster senilai US$5 juta.

Tercatat sementara oleh BKPM, lima perusahaan yang berniat menanamkan modal itu berlokasi di negara bagian barat Australia. BKPM memandang minat investasi Australia di sektor maritim sejalan dengan upaya pemerintah untuk mendorong pertumbuhan investasi di sektor tersebut.
(Gloria F.K. Lawi)

Source : Bisnis Indonesia – Tahun XXXI No. 10401 – 8 Maret 2016