Ini Dampak Penurunan Harga Minyak Bagi Daerah Kaya Migas

Anggara Pernando Minggu, 17/04/2016 19:01 WIB

Pic 7

Bisnis.com, JAKARTA Indonesian Petroleum Association (IPA) mencatat penurunan harga minyak telah membuat daerah yang ditopang dana bagi hasil (DBH) migas mengalami perlambatan ekonomi.

Daerah yang paling terdampak seperti Kutai Kartanegara misalnya, yang pada 2014 mendapatkan DBH Rp 3,2 triliun, pada 2015 hanya menerima Rp 700 miliar. Kabupaten Kampar, Riau juga mengalami nasib serupa. Dari Rp 1,2 triliun pada 2014, DBH yang diterima merosot menjadi Rp 400 miliar.

Akibatnya, kegiatan ekonomi di sejumlah daerah itu ikut meredup. Selama ini investasi di sektor migas memberikan dampak berganda (multiplier effect) terhadap kegiatan industri lainnya, seperti perusahaan kontraktor pengeboran, katering, hingga hotel dan tempat-tempat hiburan. Sejumlah program pembangunan yang direncanakan pemerintah daerah juga tertunda karena minimnya anggaran.

Meredupnya kegiatan ekonomi di daerah terlihat dari turunnya tingkat pertumbuhan ekonomi di sejumlah provinsi yang selama ini menjadi pusat industri migas. Kalimantan Timur menjadi yang paling terpukul karena perekonomiannya minus 0,9 persen pada 2015. Padahal pada 2011 perekonomiannya masih tumbuh 6,5 persen.

Jika tidak segera diantisipasi, situasi saat ini dalam jangka panjang dapat berimplikasi terhadap ketahanan energi Indonesia, kata Tenny Wibowo, Direktur Indonesian Petroleum Association (IPA) dalam siaran persnya, Minggu (17/4/2016).

Turunnya harga minyak juga berimplikasi terhadap penerimaan negara. Penerimaan sektor migas pada 2015 tercatat sebesar hanya Rp 78,4 triliun. Angka itu meleset dari target APBNP 2015 sebesar Rp 81,4 triliun. Sedangkan realisasi Pajak Penghasilan (PPh) Migas turun 43 persen dari tahun sebelumnya menjadi Rp 49,7 triliun. Realisasi investasi sektor migas pun hanya US$ 15,9 miliar, meleset dari target pemerintah sebesar US$ 23,7 miliar.

Meski begitu, penurunan harga minyak membuka peluang untuk meningkatkan investasi di sektor hulu migas. Ini mengingat biaya eksplorasi migas menurun mengikuti tren harga minyak.Tenny Wibowo mengungkapkan, kesempatan ini mesti dimanfaatkan untuk meningkatkan eksplorasi guna menambah cadangan dan kapasitas produksi nasional. Sehingga,ketika harga minyak kembali naik pemerintah tinggal memetik keuntungan dari stok yang berlimpah.

Berdasarkan proyeksi BP Energy Outlook 2016, harga minyak bisa mengalami rebound dalam beberapa tahun ke depan seiring permintaan yang meningkat. Apalagi, bahan bakar yang berasal dari fosil masih mendominasi, yakni sekitar 80 persen, dari total kebutuhan dunia pada 2035.

Upaya ini sejalan dengan prioritas pemerintah untuk menciptakan ketahanan energi nasional. Dengan cadangan energi yang berlimpah maka impor minyak juga bisa ditekan, ujarnya.

Editor : Mia Chitra Dinisari

Source : bisnis.com