Ingin Produksi Minyak Lebih Efisien? Begini Caranya

Michael Agustinus – detikfinance
Selasa, 24/05/2016 14:52 WIB
c915230c-0874-48da-8fb1-70371bb1d352_169Foto: BBC
Jakarta -Harga minyak sempat menyentuh titik terendah dalam 20 tahun terakhir. Akibatnya, pendapatan perusahaan-perusahaan minyak terjun bebas, anjlok lebih dari 50% dalam 1,5 tahun terakhir.Mau tak mau, perusahaan minyak harus melakukan efisiensi agar dapat bertahan di tengah rendahnya harga minyak, termasuk dengan memangkas investasi untuk eksplorasi dan produksi minyak.

General Electric (GE) menawarkan alat-alat berteknologi tingginya sebagai salah satu solusi bagi perusahaan-perusahaan minyak yang tengah berupaya mengefisienkan biaya operasionalnya.

Presiden Direktur GE Oil and Gas Indonesia, Iwan Chandra, menyebutkan perangkat bernama Electric Submersible Pump (ESP) dari GE sebagai contoh alat yang dapat membuat biaya produksi minyak dan gas lebih hemat.

ESP adalah alat dengan teknologi sensor yang dapat memonitor pompa angguk untuk menyedot minyak agar bekerja optimal. Biasanya pompa angguk terus bergerak naik turun tanpa memperhatikan ketersediaan minyak yang dapat disedot.

Dengan bantuan ESP, pompa angguk hanya akan bergerak turun secara otomatis ketika ada minyak dalam jumlah cukup yang bisa diambil. Kemudian bergerak naik menyedot minyak ke atas ketika minyak sudah cukup banyak. Jadi pergerakannya sedikit, tidak menghabiskan banyak listrik, tetapi hasilnya maksimal.

Pompa angguk yang bergerak seperlunya ini membuat konsumsi listrik bisa turun hingga tinggal sepertiga dari biasanya. Penggunaan solar untuk mesin diesel yang menghidupkan pompa angguk pun ikut berkurang drastis.

“Contoh ESP, jadi pompa angguk butuh listrik, pakai mesin diesel, bakar oil untuk menghasilkan oil. Dengan digital teknologi kita sensor, kita monitor, sehingga pompa otomatis turun nunggu penuh baru menyedot. Listrik dihemat, bisa lebih efisien 3 kali lipat,” papar Iwan dalam diskusi di Sentra Senayan II, Jakarta, Selasa (24/5/2016).

Dengan alat ESP ini, produksi di satu lapangan bisa naik tanpa harus mengebor sumur baru. Menurut Iwan, biaya investasi untuk ESP tergolong kecil karena sangat murah bila dibandingkan dengan mengebor sumur baru.

“Kalau dibanding investasi sumur, ini kecil banget jadi termasuk barang murah. Menahan laju penurunan produksi (decline) biasanya nambah sumur baru, tapi sekarang drilling menurun. Jadi sekarang lebih baik meningkatkan efisiensi dari sumur-sumur yang ada,” ucapnya.

Perusahaan minyak pun tak perlu takut rugi karena sudah membayar mahal-mahal tapi ternyata produksi minyaknya tak naik setelah menggunakan ESP. Sebab, pembayaran dilakukan setelah produksi minyak naik.

“Bayarannya dikaitkan dengan kenaikan produksi. Kalau nggak naik-naik nggak dibayar,” ujar Iwan.

Sampai saat ini belum ada 1 pun blok migas di Indonesia yang sudah menggunakan ESP. Baru Pertamina saja yang berencana menggunakannya untuk salah satu blok di Sumatera Selatan.

“Saat ini belum dipakai di Indonesia, aplikasi pertama mungkin di Sumsel milik Pertamina,” tuturnya.

Selain ESP, alat lain yang ditawarkan oleh GE adalah Predix, yaitu sistem operasi berbasis cloud yang dapat memberi gambaran lengkap terhadap sumur-sumur minyak, dan informasi analitis bagaimana cara untuk mengoptimalkan produksi serta menghemat biaya.

“Perusahaan minyak jadi bisa membuat keputusan lebih cepat, memprediksi masalah-masalah yang mungkin muncul, sehingga sumber-sumber daya dapat diprioritaskan dengan lebih efisien,” tutupnya.

(ang/ang)
Source : detik.com