INFRASTRUKTUR MIGAS – Pembangunan Fokus ke Wilayah Timur

JAKARTA, KOMPAS – Pemerintah mendorong, pembangunan infrastruktur minyak dan gas bumi di wilayah timur Indonesia. Fokus pemerintah adalah membangun tangki penyimpanan bahan bakar minyak dan depo gas. Infrastruktur tersebut diharapkan dapat menurunkan harga jual bahan bakar minyak dan gas serta mempercepat konversi minyak dan gas.

Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sujatmiko mengatakan, fokus utama sektor energi pada tahun ini adalah mendorong percepatan pemanfaatan energi terbarukan serta infrastruktur minyak dan gas bumi di wilayah timur Indonesia. Infrastruktur tersebut adalah tangki penyimpanan bahan bakar minyak (BBM) dan depo gas.

“Salah satu prioritasnya adalah tangki-tangki penyimpanan BBM untuk wilayah timur Indonesia. Infrastrukturnya masih sangat kurang di wilayah tersebut,” ujar Sujatmiko, Selasa (15/3), di Jakarta.

Sujatmiko menambahkan, pemerintah berencana membangun 25 kilang penyimpanan BBM dan 4 depo gas di Indonesia. Infrastruktur depo gas tersebut akan difokuskan di wilayah timur Indonesia, yaitu Nusa Tenggara Timur, Papua, Maluku Utara dan Ambon.

Direktur Jenderak Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM I Gusti Nyoman Wiratmaja mengatakan, pihaknya juga mendata jumlah tangki penyimpanan BBM milik perusahaan-prusahaan migas dan BUMN yang tersebar di Indonesia. Seluruh tangki penyimpanan tersebut berkapasitas sekitar 1,5 juta barrel.

“Sayangnya, lokasi tangki penyimpanan itu berada di wilayah-wilayah terpencil dan sulit dan dijangkau. Kami tengah mendata tangki mana saja yang bisa dimanfaatkan,” kata Wiratmaja.

Anggota Komisi VII DPR dari Partai Nasdem, Kurtubi, mengatakan, pihaknya mendukung upaya pemerintah mempercepat pembangunan infrastruktur migas di wilayah timur Indonesia. Menurut dia, upaya itu dapat menekan harga BBM ataupun elpiji di wilayah tersebut.

“Selain itu, pembangunan dengan elpiji diharapkan dapat mempercepat program konversi BBM ke gas,” kata Kurtubi.

Pemerintah berencana menaikkan ketahanan pasokan BBM menjadi 60 hari. Pada tahun 2015, ketahanan pasokan BBM naik menjadi 22-30 hari dari sebelumnya 18-22 hari. Ketahanan pasokan BBM ditingkatkan dengan menambah pembangunan tangki penyimpanan.

Selain itu, program konversi minyak tanah ke elpiji 3 kilogram juga bakal diperluas ke wilayah timur Indonesia. Program konversi di wilayah tersebut dijadwalkan dimulai tahun 2017.

Listrik Desa

Selain mempercepat pembangunan infrastruktur migas, pemerintah juga menjalankan program Indonesia Terang. Program ini ditujukan untuk mengalirkan listrik ke 12.659 desa yang belum teraliri listrik. Prioritas pengaliran listrik ribuan desa tersebut ada di enam provinsi, yaitu Papua, Papua Barat, Maluku, Maluku Utara, Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat. Lebih dari 60 persen desa yang belum mendapat aliran listrik berada di keenam provinsi tersebut.

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi Kementerian ESDM Rida Mulyana menambahkan, program Indonesia Terang ini memanfaatkan energi terbarukan sesuai dengan potensi yang ada di wilayah masing-masing. Seluruh kebutuhan listrik untuk ribuan desa tersebut sedikitnya 500 megawatt dan secara bertahap akan dinaikkan menjadi 1.000 megawatt.

“Sengaja kami melibatkan swasta dalam program ini karena kalau hanya mengandalkan anggaran pemerintah, hanya cukup untuk menerangi 120 desa per tahun. Padahal, ada 12.000 lebih desa yang harus diterangi listrik sampai tahun 2019 nanti,” ujar Rida (APO).

Source : Kompas – 16 Maret 2016