Imbas Aksi Ambil Untung, Harga Minyak Tergelincir Awal Pekan

Imbas Aksi Ambil Untung, Harga Minyak Tergelincir Awal PekanHarga minyak mentah dunia tergelincir lebih dari 1 persen pada perdagangan awal pekan ini, Senin (4/12) waktu Amerika Serikat (AS). (REUTERS/Sergei Karpukhin).

Jakarta, CNN Indonesia — Harga minyak mentah dunia tergelincir lebih dari 1 persen pada perdagangan awal pekan ini, Senin (4/12) waktu Amerika Serikat (AS). Hal itu akibat aksi ambil untung yang dilakukan pasar pascamelihat sinyal kenaikan produksi minyak mentah AS.

Dilansir dari Reuters, Selasa (5/12), harga minyak acuan Brent di pasar berjangka merosot dua persen atau sebesar US$1,28 menjadi US$62,45 per barel. Hal sama juga terjadi pada harga minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) berjangka yang turun US$0,89 atau 1,5 persen menjadi US$57,47 per barel.

Sebelumnya, harga minyak Brent mencapai titik tertingginya dalam dua tahun terakhir di level US$64,5 per barel bulan lalu dan terus menarik minat manajer dana. Manager hedge fund dan keuangan juga banyak bertaruh pada kenaikan harga minyak mentah AS.

Lihat juga:Pertamina Butuh Rp3,8 T Realisasikan 150 Titik BBM Satu Harga

“Pengelolaan uang dalam posisi beli (long) sekali, baik itu kontrak berjangka maupun opsi,” ujar Analis Pasar Energi CHS Hedging ony Headrick.

“Jika “banteng” (bull) tidak diberi asupan, pasar bakal mengalami sedikit aksi ambil untung yang saya kira seperti yang terjadi saat ini,” sambungnya.

Partner Again Capital Managemer John Kilduff mengatakakan pasar dalam kondisi sedikit terkoreksi dan mengarah untuk turun lebih jauh lagi.

“Pasar berada pada situasi di mana kenaikan harga (bullish) mungkin tidak memiliki lebih banyak amunisi,” ujarnya di New York.

Pasar terus memberikan perhatian pada produksi minyak mentah AS yang mendekati rekor tertinggi berdasarkan data pekan lalu.

Lihat juga:Pemerintah Salurkan Bansos Nontunai ke 15,6 Juta Keluarga

Data pemerintah AS menunjukkan, produksi minyak AS naik menjadi 9,5 juta barel per hari (bph) pada September lalu, dan secara bulanan merupakan capaian tertinggi sejak 2015.

Secara tahunan, produksi minyak AS mencapai puncaknya pada 1970 silam dengan produksi mencapai 9,6 bph.

Pengebor minyak AS juga menambah produksi dari dua rig pada pekan lalu sehingga total rig minyak di AS menjadi 749 rig, tertinggi sejak September, ujar pernyataan perusahaan layanan energi Baker Hughes minggu lalu.

Jumlah rig minyak AS, yang merupakan indikator awal tingkat produksi di masa mendatang, terus meningkat tajam dari tahun lalu yang hanya berjumlah 477 rig aktif karena perusahaan energi mendorong belanja tahun ini.

“Bahkan harga minyak yang lebih tinggi kemungkinan bakal dihalangi oleh pemberitaan dari AS, di mana aktivitas pengeboran tengah meningkat,” ujar analis Commerzbank Carsten Fritsch.

Kendati melorot, harga keduanya masih tak jauh dari harga tertinggi dalam dua tahun terakhir berkat keputusan negara anggota Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan beberapa negara produsen minyak mentah, termasuk Rusia, untuk memperpanjang komitmen pemangkasan produksi minyak sebesar 1,8 juta bph dari yang tadinya Maret 2018 menjadi akhir tahun depan.

Keputusan perpanjangan tersebut merupakan hasil pertemuan OPEC dan beberapa negara produsen minyak dunia di Wina, Austria, pada pekan lalu.

Kesepakatan OPEC terakhir ini memungkinkan para produsen minyak keluar lebih awal dari jangka waktu yang telah ditetapkan jika pasar terlalu panas.

Sementara itu, pemerintah Rusia telah menyampaikan perhatiannya soal pemangkasan produksi bakal mendorong produsen minyak AS untuk memproduksi minyak mentah lebih banyak.

“Reaksi pasar (terhadap keputusan OPEC) sejauh ini positif. Hanya ada dua aspek yang mengkhawatirkan. Salah satunya, ketidakdisiplinan Iraq belum dibicarakan, setidaknya secara publik,” ujar Ahli Strategi PVM Oil Associates Tamas Varga merujuk pada kepatuhan Iraq terhadap pemangkasan produksi minyak.

Survei produksi minyak Reuters dari 13 negara anggota OPEC mengindikasikan produksi bakal turun 300 ribu bph pada November 2017. Pasokan dari 11 negara anggota dengan produksi di bawah target awal turun sebesar 230 ribu bph.

Lihat juga:Holding Migas Dikebut, Rini Minta PGN Gelar RUPSLB

(lav)

Source : cnnindonesia.com